Techno »

LIRIK LAGU »

Download »

Followers

Showing posts sorted by relevance for query film. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query film. Sort by date Show all posts

Joko Anwar, Sineas Indonesia yang Mendunia


Joko Anwar, Sineas Indonesia yang Mendunia

Siapa yang tak mengenal sosok Joko Anwar. Pria yang kerap menjadi perbincangan di ranah sosial media ini kian menanjak karirnya berkat film-film jenius hasil olahan imaji kreatifnya sendiri. Joko Anwar lahir pada 3 Januari 1976 di Medan, Sumatera Utara. Ia tumbuh dengan menonton film-film kung fu dan horror. Sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, dia telah menulis dan menyutradarai pertunjukkan drama. Joko kemudian berkuliah di Institut Teknologi Bandung untuk belajar Aerospace Engineering karena orang tuanya tidak sanggup menyekolahkannya ke sekolah film. 

Setelah lulus kuliah pada tahun 1999, dia kemudian menjadi wartawan di The Jakarta Post sebelum kemudian menjadi seorang kritikus film. Saat mewawancarai Nia Dinata untuk The Jakarta Post, produser dan sutradara film itu sangat terkesan dengan Joko dan mengajaknya untuk menulis proyek filmnya yang kemudian dikenal dengan judul Arisan! (2003). Film tersebut mendapat sukses yang luar biasa baik secara komersial maupun pujian dari para kritikus dan memenangkan beberapa penghargaan di dalam dan luar negeri termasuk "Film Terbaik" di Festival Film Indonesia pada tahun 2004 and "Best Movie" di MTV Indonesia Movie Awards pada tahun 2004.

Joko lalu menyutradarai film pertamanya, sebuah komedi romantis berjudul Janji Joni (Joni's Promise) (2005), yang dia tulis saat dia masih duduk di bangku kuliah pada tahun 1998. Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Mariana Renata ini merupakan salah satu peraih box office terbesar pada tahun itu dan memenangkan "Best Movie" di MTV Indonesia Movie Awards tahun 2005. SET Foundation yang diketuai oleh pembuat film Garin Nugroho memberikannya penghargaan khusus untuk "cara bercerita yang inovatif' dalam film itu. Janji Joni (Joni's Promise) juga masuk dalam seleksi beberapa festival film internasional bergengsi, antara lain Sydney Film Festival dan Pusan International Film Festival. Film ini juga menghidupkan kembali karier Barry Prima, yang dikenal dunia internasional sebagai seorang bintang laga film cult yang merupakan bintang film favorit Joko sewaktu kecil.

Pada tahun 2007, Joko Anwar menulis dan menyutradarai Kala, yang disebut-sebut sebagai film noir pertama dari Indonesia yang mendapat pujian dari para kritikus internasional. Majalah film terkemuka dari Inggris, Sight & Sound, memilih film ini sebagai salah satu film terbaik di tahun itu dan juga menobatkan Joko sebagai "salah satu sutradara tercerdas di Asia". Film ini terpilih dalam seleksi lebih dari 30 film festival internasional dan memenangkan beberapa penghargaan, termasuk di antaranya sebuah Jury Prize di New York Asian Film Festival. The Hollywood Reporter menyebut Kala sebagai "sebuah "film noir" cerdas yang mengingatkan penonton pada film "M" karya Fritz Lang" . Film Kala juga disandingkan dengan karya-karya Alex Proyas dan Kiyoshi Kurosawa.

Selain menulis skenario untuk disutradarai sendiri, Joko Anwar juga menulis skenario untuk sutradara lain, termasuk film komedi Quickie Express yang memenangkan "Best Film" di Jakarta International Film Festival pada tahun 2008 dan Jakarta Undercover. Dua film tersebut juga sukses secara komersial. Joko juga menulis skenario film Fiksi yang mendapat pujian dari para kritikus internasional dan memenangkan banyak penghargaan, antara lain "Film Terbaik" dan "Skenario Terbaik" di Festival Film Indonesia 2008.

Film Joko Anwar selanjutnya adalah Pintu Terlarang yang dirilis pada tahun 2009. Film ini adalah sebuah film thriller psikologis yang juga mendapat pujian dari para kritikus. Kritikus Richard Corliss dari majalah TIME menulis, "Cerdas sekaligus sakit, film ini bisa jadi kartu panggilan buat Joko Anwar sebagai sutradara kelas dunia, kalau saja para petinggi Hollywood menginginkan sesuatu yang lain dari produk mereka yang itu-itu saja". Dia juga menyebutkan bahwa film ini merupakan "contoh sejauh apa film bisa dibuat tapi jarang mencoba". Maggie Lee dari The Hollywood Reporter menulis bahwa film Joko Anwar ini akan "membuat Hitchcock dan Almodovar bangga", dan menyebutkan bahwa "Joko Anwar memberikan film horor-suspens yang menakutkan ini dengan serangkaian penghargaan kepada para pembuat film terkemuka secara menakjubkan". Film ini juga telah masuk dalam seleksi beberapa festival film internasional terkemuka, termasuk di antaranya International Film Festival Rotterdam, New York Asian Film Festival, dan Dead by Dawn. Pintu Terlarang juga memenangkan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival 2009.

Terakhir, film teranyar dari Joko Anwar adalah Modus Anomali. Film bergenre thriller tersebut telah berhasil mencuri perhatian para penikmat film, baik di dalam maupun luar negeri. Hal tersebut dapat dilihat dari prestasi yang diraihnya, yaitu penghargaan pertama dari Bucheon Award di ajang Network of Asian Fantastic Film (NAFF) pada 21 Juli 2011 lalu di Korea Selatan. Dalam ajang Network of Asian Fantastic Films (NAFF) tersebut, Modus Anomali mendapat penghargaan lewat skenarionya. Ajang tersebut merupakan bagian dari Puchon International Fantastic Film di Korea Selatan. Modus Anomali berhasil menyisihkan 23 proyek film nominator lain yang merupakan hasil seleksi sekitar 100 proyek dari mancanegara termasuk dari Amerika Serikat, Jepang, Hong Kong, Malaysia, dan Afrika Selatan. Modus Anomali juga ditayangkan pada “Midnighters”, yaitu acara khusus di Amerika Serikat yang menampilkan film-film terpilih bergenre fantastik untuk ditayangkan tengah malam.

sumber: mindtalk.com

20 film porno terlaris sepanjang jaman

20. JESSE JANE: EROTIQUE:

Dari judulnya saja sudah dapat ditebak kalau film rilisan Digital Playground ini adalah film 'biru'. Dan film yang menutup daftar 20 film porno paling laris sepanjang jaman ini sudah terjual sekitar 8.500 kopi sejak dilansir bulan Oktober 2003 lalu. Digital Playground mendapat keuntungan lebih dari US$220 ribu dari film ini

19. SPACE NUTS:
Jangan salah. Judulnya mungkin mirip film bertema fiksi ilmiah namun sebenarnya film ini adalah film biru yang dilepas Wicked Pictures September 2003 lalu. Dalam waktu lima tahun, film yang memang menggunakan setting luar angkasa ini sudah terjual sekitar 8.600 keping lebih dan menghasilkan keuntungan buat Wicked Pictures sekitar US$257 ribu.

18. KELLY THE COED 1:
Heatwave mungkin bukan nama yang akrab di telinga para penggemar film-film biru. Namun salah satu film rilisan studio ini ternyata sanggup masuk dua puluh besar film porno terlaris sepanjang jaman. Film berjudul KELLY THE COED 1 dilepas Mei 1999 dan sudah terjual sekitar 8.700 kopi sampai saat ini. Heatwave sendiri mendapat penghasilan sekitar US$95 ribu lebih dari film ini.

17. FLESH HUNTER:
Flesh HunterJules Jordan Video tampaknya tak mau terlalu pusing dengan urusan judul. Toh, judul yang typical film biru pun sudah cukup mampu mengangkat penjualan film ini. Data AVN menyebutkan bahwa film berjudul FLESH HUNTER ini sudah terjual lebih dari 9.000 keping sejak dirilis Januari 2002 lalu. Kabarnya, Jules Jordan Video sudah mengantongi sekitar US$97 ribu dari film ini.

16. THE NEW DEVIL IN MISS JONES:
Judul berbau horor bisa jadi juga dimaksudkan untuk memikat penggemar film-film biru. Dan trik Vivid Studio ini agaknya juga cukup berhasil karena sejak dilepas bulan September 2005 lalu, film berjudul THE NEW DEVIL IN MISS JONES ini sudah terjual lebih dari 9.300 keping dan menghasilkan uang buat Vivid sekitar US$278 ribu.

15. THE FASHIONISTAS:
The FashionistasStudio Evil Angel meluncurkan film 'biru' berjudul THE FASHIONISTAS ini ke pasaran pada bulan Januari 2003 lalu. Dan dalam waktu lima tahun terakhir, film ini sudah meraih angka penjualan sekitar 9.500 keping lebih dan meraup keuntungan lebih dari US$474 ribu.

14. ANCIENT SECRETS OF THE KAMA SUTRA:
Karma SutraMencoba memanfaatkan popularitas seni bercinta India ternyata tak terlalu mampu mendongkrak angka penjualan film porno ini. Vivid melepas film berjudul ANCIENT SECRETS OF THE KAMA SUTRA ini ke pasaran mulai bulan April 1998 dan baru mendapat US$126 ribu dari angka penjualan sekitar 9.750 keping saja.

13. FADE TO BLACK:
Vivid melepas film berjudul FADE TO BLACK ini ke pasaran sejak bulan Maret 2002. Dan sampai sekarang, film ini sudah meraih sekitar US$129 ribu dari angka penjualan lebih dari 10 ribu kopi.


12. VIRTUAL SEX WITH TERA PATRICK:
Teras PatrickNama Tera Patrick dan Jenna Jameson memang sudah identik dengan film-film konsumsi dewasa alias film porno. Kali ini nama Tera Patrick dijadikan bagian dari judul film yang dilepas bulan Februari 2000 ini. Menurut data, film rilisan Digital Playground ini sudah terjual lebih dari 10.100 kopi dan mengumpulkan tak kurang dari US$262 ribu

11. THE MASSEUSE:
Jenna Jameson kembali 'menyumbangkan' filmnya sebagai film porno terlaris sepanjang jaman. Film berjudul THE MASSEUSE yang dilepas ke pasaran bulan Juli 2004 ini terjual lebih dari 10.500 kopi dan menghasilkan lebih dari US$230 ribu buat Club Jenna.

10. BRIANA LOVES JENNA:
Film BRIANA LOVES JENNA yang dilepas Club Jenna di awal tahun 2002 menutup daftar sepuluh besar film-film porno terlaris dengan angka penjualan sekitar 11 ribu keping dan menghasilkan sekitar US$241 ribu buat Club Jenna.

09. BAD WIVES:
Bad WivesDi peringkat ke sembilan ada film berjudul BAD WIVES yang dalam data disebut terjual lebih dari 11.500 kopi. Film produksi Vivid ini sebenarnya dirilis sekitar bulan September 1997 namun performanya dalam penjualan ternyata masih cukup handal. Vivid mengantongi tak kurang dari US$148 ribu dari penjualan film porno ini

08. VIRTUAL SEX WITH JENNA:
Jenna JamesonDalam film ini, nama Jenna kembali dipasang sebagai jaminan larisnya film yang dilepas Juli 1999 ini. Dan itu terbukti dari angka penjualan yang masih mampu menggapai angka 12 ribu keping dan meraup tak kurang dari US$359 ribu.

07. DREAM QUEST:
Jenna Jameson kembali berhasil membuktikan diri sebagai aktris film porno yang mampu mendongkrak angka penjualan. Buktinya film yang sudah berusia hampir sembilan tahun ini masih mampu masuk sepuluh besar film-film porno paling laris sepanjang jaman. Wicked Pictures yang mengedarkan film ini meraih tak kurang dari US$305 ribu dari angka penjualan yang mencapai lebih dari 14 ribu keping.

06. ALL STAR:
All StarDijual dengan harga US$25,95 per kepingnya, film rilisan Digital Playground ini memang laris bak kacang goreng. Dilepas ke pasaran di penghujung bulan Oktober 2000, film 'biru' yang ini sudah terjual lebih dari 15 ribu kopi dan menghasilkan uang tak kurang dari US$389 ribu.

05. ISLAND FEVER 3:
Island FeverKesuksesan ISLAND FEVER tampaknya menggoda Digital Playground untuk membuat sekuel dari film porno yang dibintangi oleh Tera Patrick ini. Buktinya, film ini sampai dibuat hingga tiga sekuel dan masih tetap dibintangi aktris cantik Tera Patrick. Sejak dilepas bulan September 2004, film ini sudah terjual sekitar 17 ribu keping dan meraup dolar sekitar US$441 ribu.

04. ISLAND FEVER:
Island FeverDalam kurun waktu tujuh tahun, film produksi Digital Playground yang dibintangi aktris Tera Patrick ini sudah terjual di atas 20 ribu keping. Dan sampai saat ini, film yang dilepas sejak Juni 2001 ini sudah menghasilkan tak kurang dari US$519 ribu.Island FeverDalam kurun waktu tujuh tahun, film produksi Digital Playground yang dibintangi aktris Tera Patrick ini sudah terjual di atas 20 ribu keping. Dan sampai saat ini, film yang dilepas sejak Juni 2001 ini sudah menghasilkan tak kurang dari US$519 ribu.

03. PIRATES:
Film porno yang mengangkat tema tentang bajak laut ini juga punya performa penjualan yang lumayan tinggi. Digital Playground melepas film ini ke pasaran mulai bulan September 2005 dan sejak saat itu film ini sudah terjual lebih dari 21 ribu kopi. Sekitar US$733 ribu sudah didapat sang produser dari penjualan film ini.

02. AWARD WINNING SEX SCENES:
Award Winning Sex ScenesDijual dengan harga US$12,95 per kepingnya, film keluaran Vivid ini sudah terjual lebih dari 28.500 keping sejak dirilis Agustus 2003 lalu. Dengan angka penjualan setinggi itu, film ini sudah meraup sekitar US$369 ribu. Dipasangnya aktris Jenna Jameson bisa jadi memang jadi daya tarik buat film ini.

01. AND THE WINNER IS... AWARD WINNING SEX SCENES:
Film porno yang diedarkan oleh Wicked Pictures sejak Mei 1999 ini memang punya performa penjualan yang mengagumkan. Sejak dirilis, film ini sudah terjual lebih dari 32 ribu kopi dan menghasilkan uang tak kurang dari US$699 ribu.


Sumber: http://akudansekitar.blogspot.com/2009/09/20-film-porno-terlaris-sepanjang-jaman.html

Asal Usul Sejarah Film Dokumenter di Dunia

Film dokumenter tidak seperti halnya film fiksi (cerita) merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian yang nyata atau sungguh-sungguh terjadi. Definisi “dokumenter” sendiri selalu berubah sejalan dengan perkembangan film dokumenter dari masa ke masa. Sejak era film bisu, film dokumenter berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi semakin kompleks dengan jenis dan fungsi yang semakin bervariasi. Inovasi teknologi kamera dan suara memiliki peran penting bagi perkembangan film dokumenter. Sejak awalnya film dokumenter hanya mengacu pada produksi yang menggunakan format film (seluloid) namun selanjutnya berkembang hingga kini menggunakan format video (digital). Berikut adalah ulasan singkat mengenai perkembangan sejarah film dokumenter dari masa ke masa.
..
Era Film Bisu

 
Sejak awal ditemukannya sinema, para pembuat film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat hasil temuan mereka. Seperti Lumiere Bersaudara, mereka merekam peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka, seperti para buruh yang meninggalkan pabrik, kereta api yang masuk stasiun, buruh bangunan yang bekerja, dan lain sebagainya. Bentuknya masih sangat sederhana (hanya satu shot) dan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Film-film ini lebih sering diistilahkan “actuality films”. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi, seperti South (1919) yang mengisahkan kegagalan sebuah ekspedisi ke Antartika.

 
Tonggak awal munculnya film dokumenter secara resmi yang banyak diakui oleh sejarawan adalah film Nanook of the North (1922) karya Robert Flaherty. Filmnya menggambarkan kehidupan seorang Eskimo bernama Nanook di wilayah Kutub Utara. Flaherty menghabiskan waktu hingga enam belas bulan lamanya untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta istri dan putranya, seperti berburu, makan, tidur, dan sebagainya. Sukses komersil Nanook membawa Flaherty melakukan ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter sejenis berjudul Moana (1926). Walau tidak sesukses Nanook namun melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah “documentary”, melalui ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Oleh karena peran pentingnya bagi awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan sering kali menobatkan Flaherty sebagai “Bapak Film Dokumenter”.
..
Sukses Nanook juga menginspirasi sineas-produser Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk memproduksi film dokumenter penting, Grass: A Nation's Battle for Life (1925) yang menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan Chang: A Drama of the Wilderness (1927) sebuah film dokumenter perjalanan yang mengambil lokasi di pedalaman hutan Siam (Thailand). Eksotisme film-film tersebut kelak sangat mempengaruhi produksi film (fiksi) fenomenal produksi Cooper, yaitu King Kong (1933). Di Eropa, beberapa sineas dokumenter berpengaruh juga bermunculan. Di Uni Soviet, Dziga Vertov memunculkan teori “kino eye”. Ia berpendapat bahwa kamera dengan semua tekniknya memiliki nilai lebih dibandingkan mata manusia. Ia mempraktekkan teorinya melalui serangkaian seri cuplikan berita pendek, Kino Pravda (1922), serta The Man with Movie Camera (1929) yang menggambarkan kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Sineas-sineas Eropa lainnya yang berpengaruh adalah Walter Ruttman dengan filmnya, Berlin - Symphony of a Big City (1927) lalu Alberto Cavalcanti dengan filmnya Rien Que les Heures.

Era Menjelang dan Masa Perang Dunia
..
 
Film dokumenter berkembang semakin kompleks di era 30-an. Munculnya teknologi suara juga semakin memantapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Pemerintah, institusi, serta perusahaan besar mulai mendukung produksi film-film dokumenter untuk kepentingan yang beragam. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah Triump of the Will (1934) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, yang digunakan sebagai alat propaganda Nazi. Untuk kepentingan yang sama, Riefenstahl juga memproduksi film dokumenter penting lainnya, yakni Olympia (1936) yang berisi dokumentasi even Olimpiade di Berlin. Melalui teknik editing dan kamera yang brilyan, atlit-atlit Jerman sebagai simbol bangsa Aria diperlihatkan lebih superior ketimbang atlit-atlit negara lain.

Di Amerika, era depresi besar memicu pemerintah mendukung para sineas dokumenter untuk memberikan informasi seputar latar-belakang penyebab depresi. Salah satu sineas yang menonjol adalah Pare Lorentz. Ia mengawali dengan The Plow that Broke the Plains (1936), dan sukses film ini membuat Lorentz kembali dipercaya memproduksi film dokumenter berpengaruh lainnya, The River (1937). Kesuksesan film-film tersebut membuat pemerintah Amerika serta berbagai institusi makin serius mendukung proyek film-film dokumenter. Dukungan ini kelak semakin intensif pada dekade mendatang setelah perang dunia berkecamuk.
..
Perang Dunia Kedua mengubah status film dokumenter ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah Amerika bahkan meminta bantuan industri film Hollywood untuk memproduksi film-film (propaganda) yang mendukung perang. Film-film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat. Sebelum televisi muncul, publik dapat menyaksikan kejadian dan peristiwa di medan perang melalui film dokumenter serta cuplikan berita pendek yang diputar secara reguler di teater-teater. Beberapa sineas papan atas Hollywood, seperti Frank Capra, John Ford, William Wyler, dan John Huston diminta oleh pihak militer untuk memproduksi film-film dokumenter Perang. Capra misalnya, memproduksi tujuh seri film dokumenter panjang bertajuk, Why We Fight (1942-1945) yang dianggap sebagai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Capra bahkan bekerja sama dengan studio Disney untuk membuat beberapa sekuen animasinya. Sementara John Ford melalui The Battle of Midway (1942) dan William Wyler melalui Memphis Belle (1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter terbaik.

Era Pasca Perang Dunia

Pada era setelah pasca Perang Dunia Kedua, perkembangan film dokumenter mengalami perubahan yang cukup signifikan. Film dokumenter makin jarang diputar di teater-teater dan pihak studio pun mulai menghentikan produksinya. Semakin populernya televisi menjadikan pasar baru bagi film dokumenter. Para sineas dokumenter senior, seperti Flaherty, Vertov, serta Grierson sudah tidak lagi produktif seperti pada masanya dulu. Sineas-sineas baru mulai bermunculan dan didukung oleh kondisi dunia yang kini aman dan damai makin memudahkan film-film mereka dikenal dunia internasional. Satu tendensi yang terlihat adalah film-film dokumenter makin personal dan dengan teknologi kamera yang semakin canggih membantu mereka melakukan berbagai inovasi teknik. Tema dokumenter pun makin meluas dan lebih khusus, seperti observasi sosial, ekspedisi dan eksplorasi, liputan even penting, etnografi, seni dan budaya, dan lain sebagainya.

Sineas Swedia, Arne Sucksdorff menggunakan lensa telefoto dan kamera tersembunyi untuk merekam kehidupan satwa liar dalam The Great Adventure (1954); Oceanografer Jeacques Cousteau memproduksi beberapa seri film dokumenter kehidupan bawah laut, seperti The Silent World (1954); Observasi kota tampak melalui karya Frank Stauffacher, Sausalito (1948) serta Francis Thompson, N.Y., N.Y. (1957). Mengikuti gaya eksotis Flaherty, John Marshall memproduksi The Hunters (1956) mengambil lokasi di gurun Kalihari di Afrika. Lalu Robert Gardner memproduksi salah satu film antropologis penting, Dead Birds (1963) yang menggambarkan suku Dani di Indonesia dengan ritual perangnya. Di Perancis, beberapa sineas berpengaruh seperti Alan Resnais, Georges Franju, serta Chris Marker lebih terfokus pada masalah seni dan budaya. Resnais mencuat namanya setelah filmnya, Van Gogh (1948) meraih penghargaan di Venice dan Academy Award. Franju memproduksi beberapa film dokumenter berpengaruh seperti Blood of the Beast (1948) dan Hotel des invalides (1951). Sementara Marker memproduksi Sunday in Peking (1956) dan Letter from Siberia (1958).

Direct Cinema
..
Pada akhir 50-an hingga pertengahan 60-an perkembangan film dokumenter mengalami perubahan besar. Dalam produksinya, sineas mulai menggunakan kamera yang lebih ringan dan mobil, jumlah kru yang sedikit, serta penolakan terhadap konsep naskah dan struktur tradisional. Mereka lebih spontan dalam merekam gambar (tanpa diatur), minim penggunaan narasi dengan membiarkan obyeknya berbicara untuk mereka sendiri (interview). Pendekatan ini dikenal dengan banyak istilah, seperti “candid” cinema, “uncontrolled” cinema, hingga cinรฉma vรฉritรฉ (di Perancis), namun secara umum dikenal dengan istilah Direct Cinema. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya tren ini, yakni gerakan Neorealisme Italia yang menyajikan keseharian yang realistik, inovasi teknologi kamera 16mm yang lebih kecil dan ringan, inovasi perekam suara portable, serta pengisi acara televisi yang popularitasnya semakin tinggi. Pendekatan Direct Cinema terutama banyak digunakan sineas asal Amerika, Kanada, dan Perancis.

 
Di Amerika, pengusung Direct Cinema yang paling berpengaruh adalah Robert Drew, seorang produser yang juga jurnalis foto. Drew membawahi beberapa sineas dokumenter berpengalaman seperti, Richard Leacock, Don Pannebaker, serta David dan Albert Maysles. Drew memproduksi film-film dokumenter yang lebih ditujukan untuk televisi, satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah Primary (1960). Film ini menggambarkan kontes politik antara John Konnedy dan Hubert Humprey di Wisconsin. Drew bersama para asistennya merekam momen demi momen secara spontan. Secara bergantian kamera mengikuti kemana pun dua politisi tersebut pergi, di tempat kerja, bertemu publik di jalanan, berpidato, dan bahkan ketika tengah bersantai di hotel. Dalam perkembangan Leacock, Pannebaker, dan Maysles meninggalkan perusahaan milik Drew dan membentuk perusahaan mereka sendiri. Beberapa diantaranya memproduksi film-film dokumenter penting, seperti What’s Happening! The Beatles in New York (1964) arahan Maysles Bersaudara yang dianggap merupakan film dokumenter Amerika pertama tanpa penggunaan narasi sama sekali.

Di Perancis, salah satu pengusung cinรฉma vรฉritรฉ yang paling berpengaruh adalah Jean Rouch. Salah satu karyanya yang dianggap paling berpengaruh (bahkan di dunia) adalah Cronicle of a Summer (1961). Rouch berkolaborasi dengan sosiologis, Edgar Morin menggunakan pendekatan baru cinรฉma vรฉritรฉ, yakni tidak hanya semata-mata melakukan observasi dan bersimpati namun juga provokasi. “You push these people to confess themselves… it’s very strange kind of confession in front of the camera, where the camera is, let’s say, a mirror, and also a window open to the outside” ungkap Rouch. Dalam filmnya tampak Morin berdiskusi dengan pelajar serta para pekerja di Kota Paris tentang kehidupan mereka dengan melayangkan pertanyaan kunci, “Are you happy?”. Rouch membiarkan subyeknya mendefinisikan sendiri masalah mereka secara alamiah melalui performa mereka di depan kamera.
..
Sejak pertengahan 60-an, pengembangan teknologi kamera 16mm dan 35 mm yang semakin canggih serta ringan makin menambah fleksibilitas para pengusung Direct Cinema. Sejak awal 60-an, hampir semua sineas dokumenter telah menggunakan teknik kamera handheld untuk merekam segala peristiwa. Direct Cinema juga berpengaruh pada perkembangan film fiksi secara estetik melalui gerakan new wave, seperti di Perancis. Para sineas new wave seringkali menggunakan kamera handheld, pencahayaan yang tersedia, kru yang minim, serta shot on location. Bahkan film-film (fiksi) mainstream pun seringkali mengadopsi teknik Direct Cinema untuk menambah unsur realisme sebuah adegan. Pendekatan Direct Cinema secara umum berpengaruh perkembangan seni film di dunia terutama pada era 60-an dan 70-an.
..
 
Warisan Direct Cinema dan Perkembangannya Hingga Kini
 
Dalam perkembangannya, Direct Cinema terbukti sebagai kekuatan yang berpengaruh sepanjang sejarah film dokumenter. Berbagai pengembangan serta inovasi teknik serta tema bermunculan dengan motif yang makin bervariasi. Salah satu bentuk variasi dari Direct Cinema yang paling populer adalah “rockumentaries” (dokumentasi musik rock). Rockumentaries memiliki bentuk serta jenis yang beragam. Let it Be (1970) memperlihatkan grup musik legendaris The Beatles yang tengah mempersiapkan album mereka. Woodstock: Three Days of Peace & Music (1970) garapan Michael Wadleigh merupakan dokumentasi dari festival musik tiga hari di sebuah lahan pertanian yang menampilkan beberapa musisi rock papan atas. Woodstock sering dianggap sebagai film dokumenter musik terbaik sepanjang masa dan menjadi dasar berpijak bagi film-film dokumentasi sejenis berikutnya. Pada dekade mendatang, This is Spinal Tap (1984) merupakan sebuah parodi rockumentary yang terbukti paling sukses komersil pada masanya.

Tradisi Direct Cinema juga tampak pada film-film kontroversial karya Fredrick Wiseman. Film-filmnya banyak bersinggungan dengan kontrol sosial, berkait erat dengan birokrasi dan bagaimana masyarakat dibuat frustasi olehnya. Dalam film debutnya, High School (1968) memperlihatkan bagaimana para siswa berontak melawan birokrasi di sekolah mereka. Maysles Bersaudara memproduksi film “Direct Cinema” Amerika berpengaruh, Salesman (1966) yang menggambarkan seorang salesman yang gagal. Sejak era 70-an, format film dokumenter mulai berubah melalui kombinasi pendekatan Direct Cinema, kompilasi footage, narasi, serta iringan musik. Salah satu sineas yang mempelopori format kombinasi ini adalah Emile De Antonio melalui film anti perangnya, Vietnam: In the Year’s of the Pig (1969). Dalam perkembangannya format ini mendominasi gaya film dokumenter selama beberapa dekade ke depan. Munculnya format digital juga semakin memudahkan siapa pun untuk memproduksi film dokumenter. Kritik sosial dan politik, lingkungan hidup, serta keberpihakan kaum minoritas masih menjadi menu utama tema film dokumenter beberapa dekade ke depan.

 

Beberapa sineas dokumenter berpengaruh muncul selama periode 70-an hingga kini. Erol Morris memproduksi film-film dokumenter unik dengan tema dan subyek yang tak lazim, seperti Gates of Heaven (1978), The Thin Blue Line (1988), serta Mr. Death (2000). Barbara Kopple dikenal melalui filmnya bertema demonstasi buruh, yakni, Harlan County, USA (1976) dan American Dream (1990). Michael Moore gemar melakukan kritik sosial dan politik melalui film-filmnya Roger and Me (1989), Bowling for Columbine (2001), Fahrenheit 9/11 (2004) serta Sicko. Kevin Rafferty dikenal melalui film-filmnya seperti The Atomic Cafรฉ (1982) dan The Last Cigarettes (1999). Pendekatan eksotis Flaherty juga masih tampak dalam film peraih Oscar, March of the Penguins (2005) yang tercatat sebagai film dokumenter terlaris sepanjang masa. Selama sejarah perkembangannya, film dokumenter terbukti dapat lebih manipulatif ketimbang film-film fiksi komersil. Film dokumenter melalui penyajian dan subyektifitasnya seringkali cenderung menggiring kita untuk memihak. Masalah etika dan moral selalu dipertanyakan. Sineas dokumenter seyogyanya tidak hanya mampu menyajikan fakta namun juga kebenaran.


sumber 
 

20 Film Hot Terlaris Di Dunia

 
20. JESSE JANE: EROTIQUE:
Dari judulnya saja sudah dapat ditebak kalau film rilisan Digital Playground ini adalah film 'biru'. Dan film yang menutup daftar 20 film porno paling laris sepanjang jaman ini sudah terjual sekitar 8.500 kopi sejak dilansir bulan Oktober 2003 lalu. Digital Playground mendapat keuntungan lebih dari US$220 ribu dari film ini

 
19. SPACE NUTS:
Jangan salah. Judulnya mungkin mirip film bertema fiksi ilmiah namun sebenarnya film ini adalah film biru yang dilepas Wicked Pictures September 2003 lalu. Dalam waktu lima tahun, film yang memang menggunakan setting luar angkasa ini sudah terjual sekitar 8.600 keping lebih dan menghasilkan keuntungan buat Wicked Pictures sekitar US$257 ribu.

 
18. KELLY THE COED 1:
Heatwave mungkin bukan nama yang akrab di telinga para penggemar film-film biru. Namun salah satu film rilisan studio ini ternyata sanggup masuk dua puluh besar film porno terlaris sepanjang jaman. Film berjudul KELLY THE COED 1 dilepas Mei 1999 dan sudah terjual sekitar 8.700 kopi sampai saat ini. Heatwave sendiri mendapat penghasilan sekitar US$95 ribu lebih dari film ini.

 
17. FLESH HUNTER:
Flesh HunterJules Jordan Video tampaknya tak mau terlalu pusing dengan urusan judul. Toh, judul yang typical film biru pun sudah cukup mampu mengangkat penjualan film ini. Data AVN menyebutkan bahwa film berjudul FLESH HUNTER ini sudah terjual lebih dari 9.000 keping sejak dirilis Januari 2002 lalu. Kabarnya, Jules Jordan Video sudah mengantongi sekitar US$97 ribu dari film ini.

 
16. THE NEW DEVIL IN MISS JONES:
Judul berbau horor bisa jadi juga dimaksudkan untuk memikat penggemar film-film biru. Dan trik Vivid Studio ini agaknya juga cukup berhasil karena sejak dilepas bulan September 2005 lalu, film berjudul THE NEW DEVIL IN MISS JONES ini sudah terjual lebih dari 9.300 keping dan menghasilkan uang buat Vivid sekitar US$278 ribu.

 
15. THE FASHIONISTAS:
The FashionistasStudio Evil Angel meluncurkan film 'biru' berjudul THE FASHIONISTAS ini ke pasaran pada bulan Januari 2003 lalu. Dan dalam waktu lima tahun terakhir, film ini sudah meraih angka penjualan sekitar 9.500 keping lebih dan meraup keuntungan lebih dari US$474 ribu.

 
14. ANCIENT SECRETS OF THE KAMA SUTRA:
Karma SutraMencoba memanfaatkan popularitas seni bercinta India ternyata tak terlalu mampu mendongkrak angka penjualan film porno ini. Vivid melepas film berjudul ANCIENT SECRETS OF THE KAMA SUTRA ini ke pasaran mulai bulan April 1998 dan baru mendapat US$126 ribu dari angka penjualan sekitar 9.750 keping saja.

 
13. FADE TO BLACK:
Vivid melepas film berjudul FADE TO BLACK ini ke pasaran sejak bulan Maret 2002. Dan sampai sekarang, film ini sudah meraih sekitar US$129 ribu dari angka penjualan lebih dari 10 ribu kopi.


 
12. VIRTUAL SEX WITH TERA PATRICK:
Teras PatrickNama Tera Patrick dan Jenna Jameson memang sudah identik dengan film-film konsumsi dewasa alias film porno. Kali ini nama Tera Patrick dijadikan bagian dari judul film yang dilepas bulan Februari 2000 ini. Menurut data, film rilisan Digital Playground ini sudah terjual lebih dari 10.100 kopi dan mengumpulkan tak kurang dari US$262 ribu

 
11. THE MASSEUSE:
Jenna Jameson kembali 'menyumbangkan' filmnya sebagai film porno terlaris sepanjang jaman. Film berjudul THE MASSEUSE yang dilepas ke pasaran bulan Juli 2004 ini terjual lebih dari 10.500 kopi dan menghasilkan lebih dari US$230 ribu buat Club Jenna.

 
10. BRIANA LOVES JENNA:
Film BRIANA LOVES JENNA yang dilepas Club Jenna di awal tahun 2002 menutup daftar sepuluh besar film-film porno terlaris dengan angka penjualan sekitar 11 ribu keping dan menghasilkan sekitar US$241 ribu buat Club Jenna.

 
09. BAD WIVES:
Bad WivesDi peringkat ke sembilan ada film berjudul BAD WIVES yang dalam data disebut terjual lebih dari 11.500 kopi. Film produksi Vivid ini sebenarnya dirilis sekitar bulan September 1997 namun performanya dalam penjualan ternyata masih cukup handal. Vivid mengantongi tak kurang dari US$148 ribu dari penjualan film porno ini

 
08. VIRTUAL SEX WITH JENNA:
Jenna JamesonDalam film ini, nama Jenna kembali dipasang sebagai jaminan larisnya film yang dilepas Juli 1999 ini. Dan itu terbukti dari angka penjualan yang masih mampu menggapai angka 12 ribu keping dan meraup tak kurang dari US$359 ribu.

 
07. DREAM QUEST:
Jenna Jameson kembali berhasil membuktikan diri sebagai aktris film porno yang mampu mendongkrak angka penjualan. Buktinya film yang sudah berusia hampir sembilan tahun ini masih mampu masuk sepuluh besar film-film porno paling laris sepanjang jaman. Wicked Pictures yang mengedarkan film ini meraih tak kurang dari US$305 ribu dari angka penjualan yang mencapai lebih dari 14 ribu keping.

 
06. ALL STAR:
All StarDijual dengan harga US$25,95 per kepingnya, film rilisan Digital Playground ini memang laris bak kacang goreng. Dilepas ke pasaran di penghujung bulan Oktober 2000, film 'biru' yang ini sudah terjual lebih dari 15 ribu kopi dan menghasilkan uang tak kurang dari US$389 ribu.

 
05. ISLAND FEVER 3:
Island FeverKesuksesan ISLAND FEVER tampaknya menggoda Digital Playground untuk membuat sekuel dari film porno yang dibintangi oleh Tera Patrick ini. Buktinya, film ini sampai dibuat hingga tiga sekuel dan masih tetap dibintangi aktris cantik Tera Patrick. Sejak dilepas bulan September 2004, film ini sudah terjual sekitar 17 ribu keping dan meraup dolar sekitar US$441 ribu.

 
04. ISLAND FEVER:
Island FeverDalam kurun waktu tujuh tahun, film produksi Digital Playground yang dibintangi aktris Tera Patrick ini sudah terjual di atas 20 ribu keping. Dan sampai saat ini, film yang dilepas sejak Juni 2001 ini sudah menghasilkan tak kurang dari US$519 ribu.Island FeverDalam kurun waktu tujuh tahun, film produksi Digital Playground yang dibintangi aktris Tera Patrick ini sudah terjual di atas 20 ribu keping. Dan sampai saat ini, film yang dilepas sejak Juni 2001 ini sudah menghasilkan tak kurang dari US$519 ribu.

 
03. PIRATES:
Film porno yang mengangkat tema tentang bajak laut ini juga punya performa penjualan yang lumayan tinggi. Digital Playground melepas film ini ke pasaran mulai bulan September 2005 dan sejak saat itu film ini sudah terjual lebih dari 21 ribu kopi. Sekitar US$733 ribu sudah didapat sang produser dari penjualan film ini.

 
02. AWARD WINNING SEX SCENES:
Award Winning Sex ScenesDijual dengan harga US$12,95 per kepingnya, film keluaran Vivid ini sudah terjual lebih dari 28.500 keping sejak dirilis Agustus 2003 lalu. Dengan angka penjualan setinggi itu, film ini sudah meraup sekitar US$369 ribu. Dipasangnya aktris Jenna Jameson bisa jadi memang jadi daya tarik buat film ini.

 
01. AND THE WINNER IS... AWARD WINNING SEX SCENES:
Film porno yang diedarkan oleh Wicked Pictures sejak Mei 1999 ini memang punya performa penjualan yang mengagumkan. Sejak dirilis, film ini sudah terjual lebih dari 32 ribu kopi dan menghasilkan uang tak kurang dari US$699 ribu
 
 

Mengenal Film Animasi Dan Cara Pembuatannya


 Asal Mula Film Cartoon / Animation


Animasi merupakan sutu teknik yang banyak sekali dipakai di dalam dunia film dewasa ini, baik sebagai suatu kesatuan yang utuh, bagian dari suatu film, maupun bersatu dengan film live. Dunia film sebetulnya berakar dari fotografi, sedangkan animasi berakar dari dunia gambar, yaitu ilustrasi desain grafis (desain komunikasi visual). Melalui sejarahnya masing-masing, baik fotografi maupun ilustrasi mendapat dimensi dan wujud baru di dalam film live dan animasi.

Dapat dikatakan bahwa animasi merupakan suatu media yang lahir dari dua konvensi atau disiplin, yaitu film clan gambar. Untuk dapat mengerti clan memakai teknik animasi, kedua konvensi tersebut harus dipahami dan dimengerti.

Film, biasa dipakai untuk merekam suatu keadaan, atau mengemukakan sesuatu. Film dipakai untuk memenuhi suatu kebutuhan umum, yaitu mengkomunikasikan suatu gagasan, pesan atau kenyataan. Karena keunikan dimensinya, clan karena sifat hiburannya, film telah diterima sebagai salah satu media audio visual yang paling popular dan digemari. Karena itu juga dianggap sebagai media yang paling efektif.

Untuk dapat mempergunakan media film ada dua masalah pokok yang harus dihadapi, yaitu masalah teknis film clan masalah teknik mengemukakan sesuatu denga film atau biasa disebut teknik presentasi. Demikian juga dengan hal yang harus diketahui di dalam film animasi, yaitu masalah teknik animasi, dan masalah teknik mengkomunikasikan sesuatu dengan teknik animasi. Sering perkataan teknik berkomunikasi lebih akrab dikatakan seni berkomunikasi.

Di dalam kenyataannya memang hal ini sangat erat hubungannya dengan berbagai bidang kegiatan seni, baik visual maupun verbal atau teateral. Bagi seorang perencana komunikasi, kegiatan ini sangat penting dimengerti. Seorang pembuat film akan mengahadapi masalah teknik membuat film dan seni membuat film.

Semua hal yang tertulis di dalam pembahasan ini, bukanlah suatu batasan, melainkan suatu cara melihat dan ringkasan permasalahan yang harus dikembangkan.

Asal Mula Teknik Film Animasi

Keinginan manusia untuk membuat gambar atau santiran (image) yang hidup dan bergerak sebagai pantara dari pengungkapan (expression) mereka, merupakan perwujudan dari bentuk dasar animasi yang hidup berkembang. Kata animasi itu sendiri sebenarnya penyesuaian dari kata animation, yang berasal dari kata dasar to animate, dalam kamus umum Inggris-Indonesia berarti menghidupkan (Wojowasito 1997). Secara umum animasi merupakan suatu kegiatan menghidupkan, menggerakkan benda mati; Suatu benda mati diberikan dorongan kekuatan, semangat dan emosi untuk menjadi hidup dan bergerak, atau hanya berkesan hidup.

Sebenarnya, sejak jaman dulu, manusia telah mencoba menganimasi gerak gambar binatang mereka, seperti yang ditemukan oleh para ahli purbakala di gua Lascaux Spanyol Utara, sudah berumur dua ratus ribu tahun lebih; Mereka mencoba untuk menangkap gerak cepat lari binatang, seperti celeng,bison atau kuda, digambarkannya dengan delapan kaki dalam posisi yang berbeda dan bertumpuk (Hallas and Manvell 1973:23).

Orang Mesir kuno menghidupkan gambar mereka dengan urutan gambar-gambar para pegulat yang sedang bergumul, sebagai dekorasi dinding. Dibuat sekitar tahun 2000 sebelum Masehi (Thomas 1958:8)

Lukisan Jepang kuno memperlihatkan suatu alur cerita yang hidup, dengan menggelarkan gulungan lukisan, dibuat pada masa Heian(794-1192) (ensiklopedi Americana volume 19, 1976). Kemudian muncul mainan yang disebut Thaumatrope sekitar abad ke 19 di Eropa, berupa lembaran cakram karton tebal, bergambar burung dalam sangkar, yang kedua sisi kiri kanannya diikat seutas tali, bila dipilin dengan tangan akan memberikan santir gambar burung itu bergerak (Laybourne 1978:18).

Hingga di tahun 1880-an, Jean Marey menggunakan alat potret beruntun merekam secara terus menerus gerak terbang burung, berbagai kegiatan manusia dan binatang lainnya. Sebuah alat yang menjadi cikal bakal kamera film hidup yang berkembang sampai saat ini. Dan di tahun 1892, Emile Reynauld mengembangkan mainan gambar animasi ayng disebut Praxinoscope, berupa rangkaian ratusan gambar animasi yang diputar dan diproyeksikan pada sebuah cermin menjadi suatu gerak film, sebuah alat cikal bakal proyektor pada bioskop (Laybourne 1978:23).

Kedua pemula pembuat film bioskop, berasal dari Perancis ini,dianggapsebagai pembuka awal dari perkembangan teknik film animasi(Ensiklopedi AmericanavoLV1,1976:740)

Sepuluh tahun kemudian setelah film hidup maju dengan pesat-nya di akhir abad ke 19. Di tahun 1908, Emile Cohl pemula dari Perancis membuat film animasi sederhana berupa figure batang korek api. Rangkaian gambar-gambar blabar hitam(black-line) dibuat di atas lembaran putih, dipotret dengan film negative sehingga yang terlihat figur menjadi putih dan latar belakang menjadi hitam.

Sedangkan di Amerika Serikat Winsor McCay (lihat gambar disamping) membuat film animasi “Gertie the Dinosaur” pada tahun 1909. Figur digambar blabar hitam dengan latar belakang putih. Menyusul di tahun-tahun berikutnya para animator Amerika mulai mengembangkan teknik film animasi di sekitar tahun 1913 sampai pada awal tahun 1920-an; Max Fleischer mengembangkan “Ko Ko The Clown” dan Pat Sullivan membuat “Felix The Cat”. Rangkaian gambar-gambar dibuat sesederhana mungkin, di mana figure digambar blabar hitam atau bayangan hitam bersatu dengan latar belakang blabar dasar hitam atau dibuat sebaliknya. McCay membuat rumusan film dengan perhitungan waktu, 16 kali gambar dalam tiap detik gerakan.

Fleischer dan Sullivan telah memanfaatkan teknik animasi sell, yaitu lembaran tembus pandang dari bahan seluloid (celluloid) yang disebut “cell”. Pemula lainnya di Jerman, Lotte Reineger, di tahun 1919 mengembangkan film animasi bayangan, dan Bertosch dari Perancis, di tahun 1930 membuat percobaan film animasi potongan dengan figure yang berasal dari potongan-potongan kayu. Gambar berikut adalah tokoh “Gertie The Dinosaurs”, dan “Felix the Cat”

George Pal memulai menggunakan boneka sebagai figure dalam film animasi pendeknya, pada tahun 1934 di Belanda. Dan Alexsander Ptushko dari Rusia membuat film animasi boneka panjang “The New Gulliver” di tahun 1935.

Di tahun 1935 Len Lye dari Canada, memulai menggambar langsung pada film setelah memasuki pembaharuan dalam film berwarna melalui film”Colour of Box”. Perkembangan Teknik film animasi yang terpenting, yaitu di sekitar tahun 1930-an. Dimana muncul film animasi bersuara yang dirintis oleh Walt Disney dari Amerika Serikat, melalui film”Mickey Mouse”, “Donald Duck” dan ” Silly Symphony” yang dibuat selama tahun 1928 sampai 1940.

Pada tahun 1931 Disney membuat film animasi warna pertama dalam filmnya “Flower and Trees”. Dan film animasi kartun panjang pertama dibuat Disney pada tahun 1938, yaitu film “Snow White and Seven Dwarfs”.

Demikian asal mula perkembangan teknik film animasi yang terus berkembang dengan gaya dan ciri khas masing-masing pembuat di berbagai Negara di eropa, di Amerika dan merembet sampai negaranegara di Asia. Terutama di Jepang, film kartun berkembang cukup pesat di sana, hingga pada dekade tahun ini menguasai pasaran film animasi kartun di sini dengan ciri dan gayanya yang khas.

Sikap Asas Film Animasi

Film animasi berasal dari dua disiplin, yaitu film yang berakar pada dunia fotografi dan animasi yang berakar pada dunia gambar. Kata film berasal dari bahasa inggris yang telah di Indonesiakan, maknanya dapat kita lihat pada kamus umum Bahasa Indonesia:

“1 barang tipis seperti selaput yang dibuat dari seluloid empat gambar potret negative (yang akan dibuat potret atau dimainkan dalam bioskop); 2 lakon (cerita) gambar hidup;” (Poerwadarminfa 1984)

Secara mendasar pengertian film yang menyeluruh sulit dijelaskan. Baru dapat diartikan kalau dilihat dari konteksnya; misalnya dipakai untuk potret negatif atau plat cetak, film mengandung pengertian suatu lembaran pita seluloid yang diproses secara kimia sebelum dapat dilihat hasilnya; atau yang berhubungan dengan cerita atau lakon, film mengandung pengertian sebagai gambar hidup atau rangkaian gambar-gambar yang bergerak menjadi suatu alur cerita yang ditonton orang, bentuk film yang mengandung unsur dasar cahaya, suara dan waktu.

Sedangkan pengertian animasi secara khusus dapat kita simak pada ensiklopedi “Americana”:

“Animated, a motion picture consisting of series of invidual hand-drawn sketches, in which the positions or gestures of the figures are varied slightly from one sketch to another. Generally, the series is film and, when projected on screen, suggest that figures are moving” (Encyclopedia Americana vol. V1,1976).

Teknik film animasi, sperti halnya film hidup, dimungkinkan adanya perhitungan keceaptan film yang berjalan berurutan antara 18 sampai 24 gambar tiap detiknya.

Gambar yang diproyeksikan ke layar sebetulnya tidak bergerak, yang terlihat adalah gerakan semu, terjadi pada indra kita akibat perubahan kecil dari satu gambar ke gambar yang lain, adanaya suatu fenomena yang terjadi pada waktu kita melihat, disebut Persistence of Vision, sehingga menghasilkan suatu ilusi gerak dari pandangan kita.

Berbeda dengan film hidup, gambar diambil dari pemotretan obyek yang bergerak, lalu dianalisis satu persatu menjadi beberapa gambar diam pada tiap bingkai pita seluloid.

Sedangkan film animasi, gerak gambar diciptakan dengan menganalisis gambar per gambar atau kerangka demi kerangka oleh animator, lalu direkam gambar demi gambar atau gerak demi gerak dengan menggunakan kamera stop-frame, kamera yang memakai alat mesin penggerak frame by frame, yaitu alat penggerak pita seluloid bingkai per bingkai, dengan perhitungan waktu untuk tiap satu detik dibutuhkan 24 bukaan bingkai kamera untuk merekam gambar, gerak ke pita seluloid.

Beberapa Jenis Teknik Film Animasi

Berdasarkan materi atau bahan dasar obyek animasi yang dipakai, secara umum jenis teknik film animasi digolongkan dua bagian besar, film animasi dwi-matra (flat animation) dan film animasi trimatra(object animation).

Film animasi Dwi-matra (flat animation)

Jenis film animasi ini seluruhnya menggunakan bahan papar yang dapat digambar di atas permukaannya. Disebut juga jenis film animasi gambar, sebab hamper semua obyek animasinya melalui runtun kerja gambar. Semua runtun kerja jenis film animasi ini dikerjakan di atas bidang datar atau papar.

Beberapa jenis film animasi dwi-matra adalah:

a. Film animasi sel(Cel Technique)

Jenis film animasi ini merupakan teknik dasar dari film animasi kartun (cartoon animation). Teknik animasi ini memanfaatkan serangkaian gambar yang dibuat di atas lembaran plastic tembus pandang, disebut sel.

Figur animasi digambar sendiri-sendiri di atas sel untuk tiap perubahan gambar yang bergerak, selain itu ada bagian yang diam, yaitu latar belakang (background), dibuat untuk tiap adegan, digambar memanjang lebih besar daripada lembaran sel.

Lembaran sel dan latar diberi lobang pada salah satu sisinya, untuk dudukan standar page pada meja animator sewaktu di gambar, dan meja dudukan sewaktu dipotret.

b. Penggambaran langsung pada film

Tidak seperti pada film animasi lainnya, jenis film animasi ini menggunakan teknik penggambaran obyek animasi dibuat langsung pada pita seluloid baik positif atau negative, tanpa melalui runtun pemotretan kamera stop frame, untuk suatu kebutuhan karya seni yang bersifat pengungkapan. Atau yang bersifat percobaan, mencari sesuatu yang baru.

Film Animasi Tri-matra (Object Animation)

Secara keseluruhan, jenis film animasi tri-matra menggunakan teknik runtun kerja yang sama dengan jenis film animasi dwi-matra, bedanya obyek animasi yang dipakai dalam wujud tri-matra. Dengan memperhitungkan karakter obyek animasi, sifat bahan yang dipakai, waktu, cahaya dan ruang.

Untuk mengerakkan benda tri-matra, walaupun itu mungkin, tapi cukup sulit untuk melaksanakannya, karena sifat bahan yang dipakai mempunyai ruang gerak yang terbatas. Tidak seperti jenis., film animasi gambar, bebas melakukanberbagai gerakan yang diinginkan.

Berdasarkan bentuk dan bahan yang digunakan, termasuk dalam jenis film animasi ini adalah :

a. Film Animasi Boneka (Puppet Animation)

Obyek animasi yang dipakai dalam jenis film animasi ini adalah boneka dan figur lainnya, merupakan penyederhanaan dari bentuk alam benda yang ada, terbuat dari bahan-bahan yang mempunyai sifat lentuk (plastik) dan mudah untuk digerakkan sewaktu melakukan pemotretan bingkai per bingkai, seperti bahan kayu yang mudah ditatah atau diukir, kain, kertas, lilin, tanah lempung dan lain-lain, untuk dapat menciptakan karakter yang tidak kaku dan terlalu sederhana.

b. Film Animasi Model

Obyek animasi tri-matra dalam jenis film ini berupa macammacam bentuk animasi ayng bukan boneka dan sejenisnya, seperti bentuk-bentuk abstark; balok, bola, prisma, piramida, silinder, kerucut dan lain-lain. Atau bentuk model, percontohan bentuk dari ukuran sebenarnya, seperti bentuk molekul dalam senyawa kimia, bola bumi.

Bentuk obyek animasi sederhana, penggunaannya pun tidak terlalu rumit dan tidak banyak membutuhkan gerak, bahan yang dipakai terdiri dari kayu, plastic keras dan bahan keras lainnya yang sesuai denga sifat karakter materi yang dimiliki, tetapi tidak berarti bahan lentuk tidak dipakai.

Disebut juga film animasi non-figur, karena keseluruhan cerita tidak membutuhkan tokoh atau figure lainnya. Jenis film Teknik yang memanfaatkan lembaran sel merupakan suatu pertimbangan penghematan gambar, dengan memisahkan bagian dari obyek animasi yang bergerak, dibuat beberapa gambar sesuai kebutuhan; dan bagian yang tidak bergerak, cukup dibuat sekali saja.

c. Film Animasi Potongan (Cut-out Animation)

Jenis film animasi ini, termasuk penggunaan teknik yang sederhana dan mudah. Figur atau obyek animasi dirancang, digambar pada lembaran kertas lalu dipotong sesuai dengan bentuk yang telah dibuat, dan diletakkan pada sebuah bidang datar sebagai latar belakangnya. Pemotretan dilakukan dengan menganalisis langsung tiap gerakan dengan tangan, sesuai denagn tuntutan cerita.

Dengan teknik yang sederhana, gerak figur atau obyek animasi menjadi terbatas sehingga karakternyapun terbatas pula. Karakter figur dibuat terpisah, biasanya, terdiri dari tujuh bagian yang berbeda; kepala, leher, badan, dua tangan dan dua kaki. Untuk menggerakkan dan menghidupkan karakter, pemisahan itu bias disesuaikan dengan tuntutan cerita, bisa dibuat kurang dari bagian tadi atau lebih.

d. Film Animasi Bayangan (Silhoutte Animation)

Seperti halnya pertunjukan wayang kulit, jenis film animasi ini menggunakan cara yang hampir sama, figur atau obyek animasi berupa bayangan dengan latar belakang yang terang, karena pencahayaannya berada di belakang layer.

Teknik yang dipakai sama dengan film animasi potongan, yaitu figur digambar lalu dipotong sesuai dengan bentuk yang digambar dan diletakkan pada latar di meja dudukan kamera untuk dipotret. Bedanya di sini, kertas yang dipakai tidak seperti animasi potongan, bahan kertas berwarna atau diberi warna sesuai dengan kebutuhan, sedangkan film animasi bayangan seluruhnya menggunakan bahan kertas berwarna gelap atau warna hitam, baik itu figur atau obyek animasi lainnya.

e. Film Animasi Kolase (Collage Animation)

Yang selalu berhubungan dengan jenis film animasi ini adalah sebuah teknik yang bebas mengembangkan keinginan kita untuk menggerakkan obyek animasi semaunya di meja dudukan kamera. Teknik cukup sederhana dan mudah dengan beberapa bahan yang bisa dipakai; potongan Koran, potret, gambar-gambar, huruf atau penggabungan dari semuanya. Gambar dan berbagai bahan yang dipakai, disusun sedemikian rupa lalu dirubah secara berangsurangsur menjadi bentuk susunan baru, dimana tiap perubahan penempelan dipotret dengan kamera menjadi suatu bentuk film animasi yang bebas.

Perkembangan suatu perusahaan, diagram suatu jaringan dalam tubuh organisme, pembuatan credit title dalam sebuah film cerita dan lain sebagainya.

5. Penggunaan Film Animasi

Penggunaan film animasi sebagai suatu bentuk pantara rupa rungu (audio visual medium), cukup berperan penting dalam menyebarkan pesan atau gagasan yang ingin disampaikan ke masyarakat luas. Film animasi dipakai pada:

1. Televisi komersial; Film animasi digunakan dengan tujuan komersial, seperti film Wan pada televise, sebagai sisipan di antara acara-acara program televise, berupa pesan-pesan pendek kepada pirsawan dan sebagai film hiburan.
2. Bioskop; Film animasi bisa sebagai film cerita panjang, film cerita pendek, dan film sisipan untuk Man pada bioskop.
3. Pelayanan Pemerintah; Film animasi digunakan sebagai film propaganda, film penerangan dan pendidikan.
4. Perusahaan; film animasi digunakan sebagai film hubungan masyarakat (public relations) seperti: film penerangan, film pendidikan dan film propaganda atau film Man pengenalan produk.

Jenis-jenis Animasi

Animasi yang dulunya mempunyai prinsip yang sederhana, sekarang telah berkembang menjadi beberapa jenis, yaitu:
Animasi 2D, Animasi 3D, Animasi tanah Hat (Clay Animation), Animasi Jepang (Anime).

a. Animasi 2D (2 Dimensi)

Animasi ini yang paling akrab dengan keseharian kita. Biasa juga disebut dengan film kartun. Kartun sendiri berasal dari kata Cartoon, yang artinya gambar yang lucu. Memang, film kartun itu kebanyakan film yang lucu. Contohnya banyak sekali, baik yang di TV maupun di Bioskop. Misalnya: Looney Tunes, Pink Panther, Tom and Jerry, Scooby Doo, Doraemon, Mulan, Lion King, Brother Bear, Spirit, dan banyak lagi. Meski yang populer kebanyakan film Disney, namun bukan Walt Disney sebagai bapak animasi kartun. Contoh lainnya adalah Felix The Cat, si kucing hitam. Umur si kucing itu sudah lumayan tua, dia diciptakan oleh Otto Messmer pada tahun 1919. Namun sayang, karena distribusi yang kurang baik, jadi kita sukar untuk menemukan film-filmnya. Bandingkan dengan Walt Disney yang sampai sekarang masih ada misalnya Snow White and The Seven Dwarfs (1937) dan Pinocchio (1940).

b. Animasi 3D (3 Dimensi)

Perkembangan teknologi dan komputer membuat teknik pembuatan animasi 3D semakin berkembang dan maju pesat. Animasi 3D adalah pengembangan dari animasi 2D. Dengan animasi 3D, karakter yang diperlihatkan semakin hidup dan nyata, mendekati wujud manusia aslinya. Semenjak Toy Story buatan Disney (Pixar Studio), maka berlombalombalah studio film dunia memproduksi film sejenis. Bermunculanlah, Bugs Life, AntZ, Dinosaurs, Final Fantasy, Toy Story 2, Monster Inc., hingga Finding Nemo, The Incredible, Shark Tale. Cars, Valian. Kesemuanya itu biasa juga disebut dengan animasi 3D atau CGI (Computer Generated Imagery).

c. Animasi Tanah Liat (Clay Animation)

Kata orang, meskipun sekarang sudah jamannya Pizza dan Bistik, namun terkadang kita juga masih kangen dengan masakan tradisional seperti sayur asem. Ungkapan tersebut cocok buat animasi Clay Animation.

Jenis ini yang paling jarang kita dengar dan temukan diantara jenis lainnya. Padahal teknik animasi ini bukan termasuk teknik baru seperti pada saat Toy Story membuka era baru animasi 3D. Bahkan, boleh dibilang nenek moyangnya animasi. Karena animasi pertama dalam bentuk CIayAnimation. Meski namanya clay (tanah liat), yang dipakai bukanlah tanah liat biasa. Animasi ini memakai plasticin, bahan lentur seperti permen karet yang ditemukan pada tahun 1897. Tokoh-tokoh dalam animasi Clay dibuat dengan memakai rangka khusus untuk kerangka tubuhnya, lalu kerangka tersebut ditutup dengan plasficine sesuai bentuk tokoh yang ingin dibuat. Bagian-bagian tubuh kerangka ini, seperti kepala, tangan, kaki, disa dilepas dan dipasang lagi. Setelah tokoh-tokohnya siap, lalu difoto gerakan per gerakan. Foto-foto tersebut lalu digabung menjadi gambar yang bisa bergerak seperti yang kita tonton di film. Animasi Clay termasuk salah satu jenis dari Stop-motion picture. Film Animasi Clay Pertama dirilis bulan Februari 1908 berjudul, A Sculptors Welsh Rarebit Nightmare. Untuk beberapa waktu yang lalu juga, beredar film clay yang berjudul Chicken Run.

d. Animasi Jepang (Anime)

Film-film yang dibahas diatas adalah kebanyakan buatan Amerika dan Eropa. Namun, Jepang pun tak kalah soal animasi. Jepang sudah banyak memproduksi anime (sebutan untuk animasi Jepang). Berbeda dengan animasi Amerika, anime Jepang tidak semua diperuntukkan untuk anak-anak, bahkan ada yang khusus dewasa.

Bicara tentang anime, ada tokoh legendaris, yaitu Dr. Osamu Tezuka. Beliau menciptakan Tetsuwan Atom atau lebih dikenal dengan Astro Boy. Seperti film animasi Amerika atau Eropa, Anime juga terdiri dari beberapa jenis, tapi yang membedakan bukan cara pembuatannya, melainkan formatnya, yaitu serial televisi, OVA, dan film bioskop.

Software Pembuat Animasi

Di pasaran sekarang ini sudah banyak beredar softwarwe pembuat animasi, baik itu 2D atau 3D. Untuk lebih jelasnya perhatikan daftar dibawah ini yang disusun berdasarkan kriterianya.

Software Animasi 2 Dimensi:
Macromedia Flash, CoRETAS, Corel R.A.V.E., After Effects, Moho, CreaToon, ToonBoom, Autodesk Animaton (1990-an) dll

Software Animasi 3 Dimensi:
Maya, 3D Studio Max, Maxon Cinema 4 D, LightWave, Softlmage, Poser, Motion Builder, Hash Animation Master, Wings 3D, Carrara, Infini-D, Canoma d

Perkembangan Animasi Di Indonesia

Bagaimana dengan perkembangan Animasi di Indonesia sendiri? Pada tahun 1980-an, ada film animasi produk Indonesia yang jadi serial Televisi yaitu si Huma yang menjadi favorit anak-anak pada masa itu. Tahun 2004, merupakan sejarah bagi per-Animasian Indonesia dengan dibuatnya film cerita panjang animasi 3D pertama oleh Studio KasatMata Jogja bekerja sama dengan Kelompok Visi Anak Bangsa Pimp. Garin Nugroho, membuat film animasi 3D “Homeland” dengan sutradara Gangsar Waskito.
 
Tahukah Kamu »