Techno »

LIRIK LAGU »

Download »

Followers

Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts

Inilah Kisah Sukses 'Amar Bose Gopal' Si Pencipta Speaker Unggulan



Masa kecil Amar Bose Gopal tidaklah indah. Sebagai anak keturunan India di Amerika Serikat, dia banyak mendapat sentimen rasial. Tapi, segala perlakuan itu diterima Amar dengan sabar. Ia kemudian malah asyik dengan hobinya mengutak-atik alat elektronik. Di usia 13 tahun, Amar bisa memperbaiki semua peralatan elektronik terutama radio. Dengan keahlian itu, ia membuka usaha perbaikan radio. Puluhan tahun sesudahnya, ia menjadi raja audio merek Bose.
Amar Bose Gopal adalah mantan dosen Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang memiliki kekayaan 1 miliar dollar AS. Dengan hartanya itu, tahun ini Majalah Forbes kembali menempatkannya dalam daftar 500 orang terkaya di dunia urutan ke 359. Dua tahun berturut-turut, 2009-2010, dia terdepak dari daftar itu.
Amar lahir di Philadelphia, Amerika Serikat (AS) pada 1929. Ia adalah anak Noni Gopal Bose, pejuang kemerdekaan India yang melarikan diri dari kejaran kolonial Inggris. Waktu itu, Bose datang ke AS dengan hanya berbekal uang 5 dollar AS. Ibunya adalah orang kulit putih yang bekerja sebagai guru.
Keluarga Amar kental dengan kuliner, budaya, dan filosofi India. Walau telah lari ke Negeri Paman Sam, sang ayah masih aktif dalam gerakan bawah tanah Negeri Gangga. Bose banyak memberikan kuliah dan ceramah di AS tentang tindakan Inggris di India yang tidak kalah dengan perlakuan tentara Nazi, Jerman.
Makanya, tak jarang, rumah kecil Keluarga Amar yang terletak di pinggiran Philadelphia menjadi tempat tinggal bagi orang India perantauan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan.
Sebagai keturunan India, Amar banyak mendapat perlakuan rasis. Ia kerap tidak memperoleh pelayanan jika makan di restoran. “Ayah, ibu, dan saya kadang-kadang mencobanya, kami duduk tapi makanan tidak pernah datang,” kenangnya.
Mendapati perlakuan itu, orang tua Amar sering mendatangi manajer restoran dan berpura-pura menjadi seorang Afro-Amerika. Amar bercerita, ayahnya akan berkata ke sang manajer, “Kami mampu mendapat uang dari memasak makanan, mampu menjadi pelayan, dan mampu untuk mengorbankan nyawa dalam perang. Jadi bisa Anda jelaskan kenapa kami tidak layak mendapat pelayanan?”.
Dengan perkataan sang ayah itu, semua orang dalam restoran akan terdiam dan mendengarkan. Setelah itu, Amar dan kedua orang tuanya akan pergi.
Selain itu, rasisme juga dialami Amar setiap pergi ke sekolah. Dia harus menegakkan kepala dan menahan emosi saat anak-anak kulit putih mencemooh dengan sebutan “nigger”. Namun, karena ayahnya melarang untuk berkelahi, Amar mengendalikan emosinya. Bahkan, saat ini, Amar sangat bersyukur karena pengalaman itu telah membuat dia mampu menghargai perasaan orang yang tersingkirkan dan diremehkan.
Untuk melampiaskan emosinya, Amar bermain biola. Permainan biola ia pelajari mulai umur tujuh sampai 14 tahun yang membawanya ke dunia musik akustik.
Tak hanya menyukai musik, Amar juga gemar dengan dunia elektronik. Ia mulai kenal dengan dunia ini sejak umur 12 tahun. Saat itu, dia mempelajari radio transmiter milik temannya. Pada usia 13 tahun, Amar sudah bisa memperbaiki semua peralatan elektronik. “Ini menakjubkan, saya bisa melakukannya begitu saja,” ujar Amar. Dengan keahlian ini, ia lalu membuka usaha reparasi radio.
Saat Perang Dunia II berkecamuk, usaha ekspor impor buah kelapa dan karpet ayahnya mengalami kesulitan finansial. Hal itu membuat usaha perbaikan radio menjadi sumber penghasilan tambahan. Dunia elektronik semakin menjadi hidup Amar ketika dia masuk kuliah di Jurusan Teknik Elektro MIT.
Kecintaannya pada dunia elektronik dan akustik membawa Amar Bose Gopal pada bisnis audio. Kekecewaannya terhadap produk audio Hi-Fi makin menguatkan niatnya berbisnis. Sebagai dosen elektro di MIT, Bose memiliki banyak kesempatan untuk mengadakan penelitian. Dari penelitian dan eksperimen bertahun-tahun, ia akhirnya mendapat hak paten dan mampu memproduksi speaker yang menjadi standar dunia selama 25 tahun.
Kegemaran akan dunia elektronik membawa Amar Bose Gopal ke Institute of Technology (MIT). Ini juga sesuai dengan keinginannya melakukan penelitian terhadap elektronik.
Setelah meraih gelar doktor pada bidang elektro, Bose lantas menjajaki karier sebagai dosen di MIT. Dia mengajar mata kuliah teori jaringan. Tak seperti dosen-dosen lain, ia tidak menggunakan buku teks kala mengajar. Dia akan membuang seluruh buku teks dan menghadapkan para mahasiswanya pada sembilan papan tulis.
Untuk memacu pikiran mahasiswa, Bose menyuruh mahasiswanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan sulit. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, dia akan memberi penjelasan, termasuk mencari solusi memecahkan masalah. Dia juga menghapuskan waktu ujian dengan memperbolehkan setiap mahasiswa membuka buku.
Dari caranya itu, kelas Bose sangat populer hingga ke fakultas matematika dan biologi. Mahasiswa menamakan kelas Bose sebagai kelas “kehidupan 101″.
Dari kecil, Bose tidak pernah bercita-cita menjadi pengusaha. Pergaulan di MIT-lah yang membuatnya memiliki jiwa entrepreneur. Dosen-dosen MIT terkenal mempunyai jiwa wirausaha yang tinggi. Dari pergaulan ini, Bose berkeinginan kembali untuk menjadi pengusaha, seperti yang pernah ia lakukan saat masih muda dengan bengkel radio.
Keinginan itu bertambah kuat ketika di tahun 1956, ia membeli satu set audio high fidelity (Hi-Fi). Saat itu, Bose berfikir bahwa perangkat audio yang baru dia beli memberi kualitas suara terbaik. Apalagi spesifikasi yang ditawarkan sudah sangat mumpuni. Namun ketika sampai di rumah dan menyalakannya, “Saya langsung mematikannya dalam lima menit, suaranya sangat buruk,” katanya.
Dari pengalaman itu, Bose mencoba merakit perangkat audio yang mampu memberikan kualitas suara seperti saat mendengarkan konser di gedung-gedung.
Walau kemudian pindah untuk mengajar di India, dengan beasiswa dari Fulbright, Bose tak pernah lupa mempelajari akustik untuk menciptakan perangkat audio terbaik.
Kembali dari India, dia terus mengadakan eksperimen bekerja sama dengan Orkes Simfoni Boston selama bertahun-tahun. Eksperimen dilakukan untuk mengukur bagaimana suara sampai di telinga penonton. Ia lalu membawa hasil pengukuran ke MIT untuk diteliti.
Bose menyimpulkan, hanya sekitar 2% suara yang diserap dari setiap pantulan. Saat itu, orang hanya mendesain speaker yang memancarkan suara lurus ke depan. Dengan temuan itu, Bose mendapatkan hak paten dalam design speaker.
Karena tidak mempunyai cukup dana untuk mendirikan perusahaan, Bose harus menyakinkan investor agar mau menanamkan uang mereka. Salah satu investor yang berhasil dia yakinkan adalah Y.W. Lee.
Lee adalah profesor dan penasihat tesis Bose. Dia mau mempertaruhkan tabungan seumur hidupnya untuk bisnis Bose. Dengan modal kepercayaan, pada tahun 1964 Bose Coorporation resmi berdiri.
Produk pertamanya adalah Bose’s 901 direct/reflecting speaker. Itu adalah speaker pertama di dunia yang menggunakan ruangan sekeliling, bukan mereproduksi suara seperti di ruang vakum. Bose’s 901 menjadi standar industri selama 25 tahun.
Bose juga mengembangkan Auditioner, perangkat audio untuk memperhitungkan spesifikasi ruangan. Auditioner menjadi keunggulan marketing Bose, karena calon pembeli dapat mengetahui kualitas suara di gedung mereka sebelum sistem audio dipasang.
Kini, Amar menjalankan usahanya di kantor yang terletak di atas bukit yang lebih dikenal dengan nama The Mountain di Framingham, Massachusetts. Ia mengawasi penelitian, perakitan, dan produksi perlengkapan audio kualitas tinggi dengan merek Bose. Selain memproduksi speaker, Bose juga mengerjakan instalasi audio untuk auditorium dan pertunjukan konser tingkat dunia.

Cinta di Atas Cinta, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra



Sahabat yang lahir dalam keprihatinan dan meninggal dalam Kesunyian.
Dialah, khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Tidak ada 'badai' besar sebesar 'badai' pada era-nya. Dan dialah, sosok yang menelan getir demi getir dari setiap keputusan pahit yang 'harus' dibuatnya.

Dan tiba-tiba aku merindukan beliau... rindu yang sejatinya. Di sujud terakhir sholat dhuhur tadi, aku tak dapat menahannya. Pertahananku jebol. Berbulir-bulir air jatuh menetes dari mataku. Hangat. Ada sedih yang menyeruak, namun ada juga harap yang begitu jauh...Aku ingin sekali bersua dan bertemu muka dengannya.

Bergegas aku menuju pancuran air wudhu. Membasuh muka. Aku sedang tak ingin membaginya dengan muridku. Saat ini, mereka tak boleh melihatku menangis. Terpaan air wudhu terasa menyejukkan. Aku kembali masuk ke masjid. NAmun, belum sampai ke pintu masuk, kembali aku membalikkan badan. MAsih ada air mata yang tertinggal. Aku membasuhnya, untuk kedua kali. Kali ini dengan perlahan.

***

Ali kecil adalah anak yang malang. Namun, kehadiran Muhammad SAW telah memberi seberkas pelangi baginya. Ali, tidak pernah bisa bercurah hati kepada ayahnya, Abi Thalib, selega ia bercurah hati kepada Rasulullah. Sebab, hingga akhir hayatnya pun, Abi Thalib tetap tak mampu mengucap kata syahadat tanda penyerahan hatinya kepada Allah. Ayahnya tak pernah bisa merasa betapa nikmatnya saat bersujud menyerahkan diri,kepada Allah Rabb semesta sekalian alam.

Kematian ayahnya tanpa membawa sejumput iman begitu memukul Ali. Kelak dari sinilah, ia kemudian bertekad kuat untuk tak mengulang kejadian ini buat kedua kali. Ia ingin, saat dirinya harus mati nanti, anak-anaknya tak lagi menangisi ayahnya seperti tangis dirinya untuk ayahnya, Abi Thalib. Tak cuma dirinya, disebelahnya, Rasulullah pun turut menangisi kenyataan tragis ini...saat paman yang selama ini melindunginya, tak mampu ia lindungi nanti...di hari akhir,karena ketiaadaan iman di dalam dadanya.

Betul-betul pahit, padahal Ali tahu bahwa ayahnya sangatlah mencintai dirinya dan Rasulullah. Saat ayahnya, buat pertama kali memergoki dirinya sholat berjamaah bersama Rasulullah, ia telah menyatakan dukungannya. Abi Thalib berkata, ""Janganlah kau berpisah darinya (Rasulullah), karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan".

Sejak masih berumur 6 tahun, Ali telah bersama dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Sejarah kelak mencatat bahwa Ali terbukti berkomitmen pada kesetiaannya. Ia telah hadir bersama Rasulullah sejak awal dan baru berakhir saat Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ali ada disaat yang lain tiada. Ali adalah tameng hidup Rasulullah dalam kondisi kritis atau dalam berbagai peperangan genting, saat diri Rasulullah terancam.

Kecintaan Ali pada Rasulullah, dibalas dengan sangat manis oleh Rasulullah. Pada sebuah kesempatan ia menghadiahkan kepada Ali sebuah kalimat yang begitu melegenda, yaitu : "Ali, engkaulah saudaraku...di dunia dan di akhirat..."

Ali, adalah pribadi yang istimewa. Ia adalah remaja pertama di belahan bumi ini yang meyakini kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Konsekuensinya adalah, ia kemudian seperti tercerabut dari kegermerlapan dunia remaja. Disaat remaja lain berhura-hura. Ali telah berkenalan dengan nilai-nilai spiritual yang ditunjukkan oleh Rasulullah, baik melalui lisan maupun melalui tindak-tanduk beliau. "Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya", begitu kata Ali mengenang masa-masa indah bersama Rasulullah tidak lama setelah Rasulullah wafat.

Amirul mukminin Ali, tumbuh menjadi pemuda yang berdedikasi. Dalam berbagai forum serius yang dihadiri para tetua, Ali selalu ada mewakili kemudaan. Namun, muda tak berarti tak bijaksana. Banyak argumen dan kata-kata Ali yang kemudian menjadi rujukan. Khalifah Umar bahkan pernah berkata,"Tanpa Ali, Umar sudah lama binasa"

Pengorbanannya menjadi buah bibir sejarah Islam. Ali-lah yang bersedia tidur di ranjang Rasulullah, menggantikan dirinya, saat rumahnya telah terkepung oleh puluhan pemuda terbaik utusan kaum kafir Quraisy yang hendak membunuhnya di pagi buta. Ali bertaruh nyawa. Dan hanya desain Allah saja semata, jika kemudian ia masih tetap selamat, begitu juga dengan Rasulullah yang saat itu 'terpaksa' hijrah ditemani Abu Bakar seorang.

Keperkasaan Ali tiada banding. Dalam perang Badar, perang pertama yang paling berkesan bagi Rasulullah (sehingga setelahnya, beliau memanggil para sahabat yang ikut berjuang dalam Badar dengan sebutan " Yaa...ahlul Badar..."), Ali menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan separo dari 70an pihak musuh yang terbunuh. Hari itu, bersama sepasukan malaikat yang turun dari langit, Ali mengamuk laksana badai gurun.

Perang Badar adalah perang spiritual. Di sinilah, para sahabat terdekat dan pertama-tama Rasulullah menunjukkan dedikasinya terhadap apa yang disebut dengan iman. Mulanya, jumlah lawan yang sepuluh kali lipat jumlahnya menggundahkan hati para sahabat. Namun, doa pamungkas Rasulullah menjadi penyelamat dari jiwa-jiwa yang gundah. Sebuah doa, semirip ultimatum, yang setelah itu tak pernah lagi diucapkan Rasulullah..."Ya Allah, disinilah sisa umat terbaikmu berkumpul...jika Engkau tak menurunkan bantuanmu, Islam takkan lagi tegak di muka bumi ini..."

Dalam berbagai siroh, disebutkan bahwa musuh kemudian melihat jumlah pasukan muslim seakan tiada batasnya, padahal jumlah sejatinya tidaklah lebih dari 30 gelintir. Pasukan berjubah putih berkuda putih seperti turun dari langit dan bergabung bersama pasukan Rasulullah. Itulah, kemenangan pasukan iman. Dan Ali, menjadi bintang lapangannya hari itu.

Tak hanya Badar, banyak peperangan setelahnya menjadikan Ali sebagai sosok yang disegani. Di Uhud, perang paling berdarah bagi kaum muslim, Ali menjadi penyelamat karena dialah yang tetap teguh mengibarkan panji Islam setelah satu demi satu para sahabat bertumbangan. Dan yang terpenting, Ali melindungi Rasulullah yang kala itu terjepit hingga gigi RAsulullah bahkan rompal dan darah mengalir di mana-mana. Teriakan takbir dari Ali menguatkan kembali semangat bertarung para sahabat, terutama setelah melihat Rasululah dalam kondisi kritis.

Perang Uhud meski pahit namun sejatinya berbuah manis. Di Uhud, Rasulullah banyak kehilangan sahabat terbaiknya, para ahlul Badar. Termasuk pamannya, Hamzah --sang singa padang pasir. Kedukaan yang tak terperi, sebab Hamzah-lah yang selama ini loyal melindungi Rasulullah setelah Abi Thalib wafat. Buah manisnya adalah, doa penting Rasulullah juga terkabul, yaitu masuknya Khalid bin Walid, panglima musuh di Perang Uhud, ke pangkuan Islam. Khalid kemudian, hingga akhir hayatnya, mempersembahkan kontribusi besar terhadap kemenangan dan perkembangan Islam.

Bagi Ali sendiri, perang Uhud makin menguatkan imagi tersendiri pada sosok Fatimah binti Muhammad SAW. Sebab di perang Uhud, Fatimah turut serta. Dialah yang membasuh luka ayahnya, juga Ali, berikut pedang dan baju perisainya yang bersimbah darah.

Juga di perang Khandak. Perang yang juga terhitung genting. Perang pertama yang sifatnya psyco-war. Ali kembali menjadi pahlawan, setelah cuma ia satu-satunya sahabat yang 'berani' maju meladeni tantangan seorang musuh yang dikenal jawara paling tangguh, ‘Amr bin Abdi Wud. Dalam gumpalan debu pasir dan dentingan suara pedang. Ali bertarung satu lawan satu. Rasulullah SAW bahkan bersabda: “Manifestasi seluruh iman sedang berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”.

Dan teriakan takbir menjadi pertanda, bahwa Ali menyudahinya dengan kemenangan. Kerja keras Ali berbuah. Kemenangan di raih pasukan Islam tanpa ada benturan kedua pasukan. Tidak ada pertumpahan darah. kegemilangan ini, membuat Rasulullah SAW pada sebuah kesempatan : “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Seluruh peperangan Rasulullah diikuti oleh Ali, kecuali satu di Perang Tabuk. Rasulullah memintanya menetap di Mekkah untuk menjaga stabilitas wilayah. Sebab Rasulullah mengetahui, ada upaya busuk dari kaum munafiq untuk melemahkan Mekkah dari dalam saat Rasulullah keluar memimpin perang TAbuk. Kehadiran Ali di Mekkah, meski seorang diri, telah berhasil memporakporandakan rencana buruk itu. Nyali mereka ciut, mengetahui ada Ali di tengah-tengah mereka.

Perubahan drastis ditunjukkan Ali setelah Rasulullah wafat. Ia lebih suka menyepi, bergelut dengan ilmu, mengajarkan Islam kepada murid-muridnya. Di fase inilah, Ali menjadi sosok dirinya yang lain, yaitu seorang pemikir. Keperkasaannya yang melegenda telah diubahnya menjadi sosok yang identik dengan ilmu. Ali benar-benar terinspirasi oleh kata-kata Rasulullah, "jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya". Dari ahli pedang menjadi ahli kalam (pena). Ali begitu tenggelam didalamnya, hingga kemudian ia 'terbangun' kembali ke gelanggang untuk menyelesaikan 'benang ruwet', sebuah nokta merah dalam sejarah Islam. Sebuah fase di mana sahabat harus bertempur melawan sahabat.


Kenangan Bersama Fatimah Az-Zahra

Sejatinya, sosok Fatimah telah lama ada di hati Ali. Ali-lah yang mengantarkan Fatimah kecil meninggalkan Mekkah menyusul ayahnya yang telah dulu hijrah. Ali pula yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa Fatimah menangis tersedu-sedu setiap kali Rasulullah dizhalimi. Ali bisa merasakan betapa pedihnya hati fatimah saat ia membersihkan kotoran kambing dari punggung ayahnya yang sedang sholat, yang dilemparkan dengan penuh kebencian oleh orang-orang kafir quraisy.

Bagi Fatimah, sosok rasulullah, ayahnya, adalah sosok yang paling dirindukannya. Meski hati sedih bukan kepalang, duka tak berujung suka, begitu melihat wajah ayahnya, semua sedih dan duka akan sirna seketika. Bagi Fatimah, Rasulullah adalah inspirator terbesar dalam hidupnya. Fatimah hidup dalam kesederhanaan karena Rasulullah menampakkan padanya hakikat kesederhanaan dan kebersahajaan. Fatimah belajar sabar, karena Rasulullah telah menanamkan makna kesabaran melalui deraan dan fitnah yang diterimanya di sepanjang hidupnya. Dan Ali merasakan itu semua. Karena ia tumbuh dan besar di tengah-tengah mereka berdua.

Maka, saat Rasulullah mempercayakan Fatimah pada dirinya, sebagai belahan jiwanya, sebagai teman mengarungi kehidupan, maka saat itulah hari paling bersejarah bagi dirinya. Sebab, sesunguhnya, Fatimah bagi Ali adalah seperti bunda Khodijah bagi Rasulullah. Teramatlah istimewa.

Suka duka, yang lebih banyak dukanya mereka lewati bersama. Dua hari setelah kelahiran Hasan, putra pertama mereka, Ali harus berangkat pergi ke medan perang bersama Rasulullah. Ali tidak pernah benar-benar bisa mencurahkan seluruh cintanya buat Fatimah juga anaknya. Ada mulut-mulut umat yang menganga yang juga menanti cinta sang khalifah.

Mereka berdua hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang sampai mengguncang langit. Penduduk langit bahkan sampai ikut menangis karenanya. Berhari-hari tak ada makanan di meja makan. Puasa tiga hari berturut-turut karena ketiadaan makanan pernah hinggap dalam kehidupan mereka. Tengoklah Ali, dia sedang menimba air di pojokkan sana, Setiap timba yang bisa angkat, dihargai dengan sebutir kurma. Hasan dan Husein bukan main riangnya mendapatkan sekerat kurma dari sang ayah.

Pun, demikian tak pernah ada keluk kesah dari mulut mereka. Bahkan, mereka masih bisa bersedekah. Rasulullah...tak mampu menahan tangisnya... saat mengetahui Fatimah memberikan satu-satunya benda berharga miliknya, seuntai kalung peninggalan sang bunda Khodijah, ketika kedatangan pengemis yang meminta belas kasihan padanya. Rasulullah, yang perkasa itu, tak mampu menyembunyikan betapa air matanya menetes satu persatu...terutama mengingat bahwa kalung itu begitu khusus maknanya bagi dirinya... dan fatimah rela melepasnya, demi menyelamatkan perut seorang pengemis yang lapar, yang bahkan tidak pula dikenalnya.

Dan lihatlah...langit tak diam. Mereka telah menyusun rencana. HIngga, melalui tangan para sahabat, kalung itu akhirnya kembali ke Fatimah. Sang pengemis, budak belaian itu bisa pulang dalam keadaan kenyang, dan punya bekal pulang, menjadi hamba yang merdeka pula. Dan yang terpenting adalah kalung itu telah kembali ke lehernya yang paling berhak...Fatimah.

Namun, waktu terus berjalan. Cinta di dunia tidaklah pernah abadi. Sebab jasad terbatasi oleh usia. Mati. Sepeninggal Rasulullah, Fatimah lebih sering berada dalam kesendirian. Ia bahkan sering sakit-sakitan. Sebuah kondisi yang sebelumnya tidak pernah terjadi saat rasulullah masih hidup. Fatimah seperti tak bisa menerima, mengapa kondisi umat begitu cepat berubah sepeninggal ayahnya. Fatimah merasa telah kehilangan sesuatu yang bernama cinta pada diri umat terhadap pemimpinnya. Dan ia semakin menderita karenanya setiap kali ia terkenang pada sosok yang dirindukannya, Rasulullah SAW.

Pada masa ketika kekalutan tengah berada di puncaknya, Fatimah teringat pada sepenggal kalimat rahasia ayahnya. Pada detik-detik kematian Rasulullah...di tengah isak tangis Fatimah...Rasulullah membisikkan sesuatu pada Fatimah, yang dengan itu telah berhasil membuat Fatimah tersenyum. Senyum yang tak bisa terbaca. Pesan Rasulullah itu sangatlah rahasia, dia hanya bisa terkatakan nanti setelah Rasulullah wafat atau saat Fatimah seperti sekarang ini...terbujur di pembaringan. Ya, Rasulullah berkata, "Sepeninggalku, ...diantara bait-ku (keluargaku), engkaulah yang pertama-tama akan menyusulku..."

Kini, Fatimah telah menunggu masa itu. Ia telah sedemikian rindu dengan ayahanda pujaan hatinya. Setelah menatap mata suaminya, dan menggenggam erat tangannya...seakan ingin berkata, "kutunggu dirimu nanti di surga...bersama ayah...", Fatimah Az-Zahro menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya... dalam deraian air mata... Ali menguburkan jasad istrinya tercinta itu...yang masih belia itu...sendiri...di tengah malam buta...Ali tidak ingin membagi perasaannya itu dengan orang lain. Mereka berdua larut dalam keheningan yang hanya mereka berdua yang tahu. Lama Ali terpekur di gundukan tanah merah yang baru saja dibuatnya. Setiap katanya adalah setiap tetes air matanya. Mengalir begitu deras. Hingga kemudian, dengan dua tangan terkepal. Ali bangkit berdiri...dan berteriak sekeras-seKerasnya sambil menghadap langit...." A L L A H U ... A K B A R".


Pertempuran Antar Sahabat

Amirul Mukminin Ali ra., kemudian berkonsentrasi membenahi kondisi umat. Terutama pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan stabilitas pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti penggantian pejabat dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan) menyulut kontroversi. Terutama, dalam kacamata awam, Ali tak pula kunjung menyeret pelaku pembunuhan Khalifah Ustman ke pengadilan.

Yang harus dihadapi Ali tak tanggung-tanggung, sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu pernah berjuang bersama Rasulullah menegakkan Islam, kini berada dalam barisan yang hendak melawannya. Bahkan ada pula sahabat yang dulu membaiatnya menjadi khalifah. kini turut pula menghadangnya. Kondisi yang betul-betul pahit.

Ali tidak pandang bulu. Baginya hukum menyentuh siapa saja. Tidak ada istilah 'orang kuat' di mata Ali. BAgi beliau, "orang lemah terlihat kuat dimataku, saat aku harus berjuang keras mengembalikan hak miliknya yang terampas. Orang kuat terlihat lemah di mataku, saat aku terpaksa mengambil sesuatu darinya yang bukan menjadi haknya".

Di masa Khalifah Ali, pusat pemerintahan di pindahkan ke Kuffah. Dari sini kemudian ia mengendalikan wilayah Islam, yang saat itu telah meluas termasuk Syam. Kondisi saat itu benar-benar membutuhkan ketegasan. Sebagai khalifah terakhir dalam bingkai Khulafa Ar-rasyidin, Ali dihadapkan pada masa pelik. Dimana akar dari permasalahannya adalah makin bertambahnya Islam dari segi jumlah namun makin berkurang pula dari segi kualitas. Interest pribadi (nafs), kesukuan (nasionalisme sempit) yang dibalut atas nama agama, menjadi awal mulanya masa kemunduran Islam.

Ketidaksempurnaan informasi yang diterima bunda Aisyah di Mekkah terhadap beberapa kebijakan Khalifah Ali telah membuatnya menyerbu Kuffah. Perang Jamal (Unta), demikian sejarah mencatatnya. Sebab bunda Aiysah ra memimpin perang melawan Ali dengan menunggangi Unta. Bersama Aisyah, turut pula sahabat Zubair bin Awam dan Thalhah. Di akhir peperangan, Khalifah Ali menjelaskan semuanya, dan Asiyah dipulangkan dengan hormat ke Mekkah. Ali mengutus beberapa pasukan khusus untuk mengawal kepulangan bunda Aisyah ke Mekkah.

Berikutnya adalah Perang Shiffin. Bermula dari GUbernur Syam, Muawiyyah bin Abu Sofyan yang menyatakan penolakannya atas keputusan Ali mengganti dirinya sebagai gubernur. Kondisi serba tak taat ini membuat Ali masygul. Mereka bertemu dalam Perang Siffin. Dan di saat-saat memasuki kekalahannya, pasukan Syam kemudian mengangkat Al-Quran tinggi-tinggi dengan tombaknya, yang membuat pasukan Kufah menghentikan serangan. Dengan cara itu, kemudian dibukalah pintu dialog.

Perundingan inilah yang kemudian membawa babak baru dalam kehidupan Ali, bahkan dunia Islam hingga saat ini. Sebuah tahkim (arbitrase) yang menurut sebagian pihak membuat Ali di bagian pihak yang kalah, namun menunjukkan kemuliaan hati Ali di sisi lain. Syam mengutus Amru Bin 'Ash yang terkenal dengan negosiasinya dan Ali mengutus Abu Musa Asyari, yang terkenal dengan kejujurannya. Ali nampak betul-betul berharap terhadap perundingan ini dan menghasilkan traktat yang membawa kedamaian diantara keduanya. Namun, kelihaian mengolah kata-kata dari pihak Syam membuat arbitrase itu seperti mengukuhkan kemunduran Ali sebagai khalifah dan menggantikannya dengan Muawiyah.

Dan ini menimbulkan ketidakpuasan dari beberapa elemen di pasukan Ali. Dari sini, lahirlah para Khawarij yang kelak kemudian, bertanggung jawab terhadap kematian Khalifah Ali.

Khawarij itu, Tiga untuk Tiga... Mereka membentuk tim berisi tiga orang yang tugasnya membunuh tiga orang yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap perundingan tersebut. Abdurahman bin Muljam ditugasi untuk membunuh Ali bin Thalib, Amr bin Abi Bakar ditugasi untuk membunuh Muawiyah, dan Amir bin Bakar ditugasi untuk membunuh Amr bin Ash. Mereka kemudian gagal membunuh tokoh-tokoh ini, kecuali Abdurahman bin Muljam.

Menjelang wafatnya Khalifah Ali ra, Ali sempat bermuram durja. Sebab, penduduk Kuffah termakan propaganda dan kehilangan ketaatan kepada dirinya. Saat Ali meminta warga Kuffah untuk mempersiapkan diri menyerbu Syam, namun warga Kuffah tak terlalu menanggapi seruan itu. Ini berdampak psikologis amat berat bagi Ali. Tidak hanya sekali dua kali. tapi acapkali seruan Khalifah Ali di anggap angin lalu oleh warga Kufah.

Karena itu, Ali sempat berkata," “Aku terjebak di tengah orang-orang tidak menaati perintah dan tidak memenuhi panggilanku. Wahai kalian yang tidak mengerti kesetiaan! Untuk apa kalian menunggu? Mengapa kalian tidak melakukan tindakan apapun untuk membela agama Allah? Mana agama yang kalian yakini dan mana kecemburuan yang bisa membangkitkan amarah kalian?”

Pada kesempatan yang lain beliau juga berkata, “Wahai umat yang jika aku perintah tidak menggubris perintahku, dan jika aku panggil tidak menjawab panggilanku! Kalian adalah orang-orang yang kebingungan kala mendapat kesempatan dan lemah ketika diserang. Jika sekelompok orang datang dengan pemimpinnya, kalian cerca mereka, dan jika terpaksa melakukan pekerjaan berat, kalian menyerah. Aku tidak lagi merasa nyaman berada di tengah-tengah kalian. Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara.”

"Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara". Pernyataan pedih mewakili hati yang pedih. Dalam kehidupan kekinian, mungkin bertebaran di tengah-tengah kita pemimpin-pemimpin baru atau anak-anak muda berjiwa pembaharu yang dalam hatinya sama dengan dalamnya hati Ali ra saat mengucapkan kalimat itu. Mereka menawarkan jalan cerah tapi, kita umatnya memilih kegelapan yang nampak menyilaukan. Kita abai terhadap ajakan mereka, dan malah mungkin memusuhinya...mengisolasinya. Ahhh...semoga kita terhindar dari kelakuan keji itu...

Usaha Khalifah Ali ra untuk menyusun kembali peta kekuatan Islam sebenarnya telah diambang keberhasilan. Satu demi satu yang dulunya tercerai berai telah kembali berikrar setia pada beliau. Namun , Allah berkehendak lain, setelah berjuang keras sekitar 5 tahun menjaga amanah kepemimpinan umat, dan setelah melewati berbagai fitnah dan deraan, Khalifah Ali menyusul kekasih hatinya, Rasulullah SAW dan FAtimah Az-Zahra menghadap Sang Pencipta, Allah SWT.

Hari itu, tanggal 19 ramadhan tahun 40 H, saat beliau mengangkat kepala dari sujudnya, sebilah pedang beracun terayun dan mendarat tepat di atas dahinya. Darah mengucur deras membahasi mihrab masjid. “Fuztu wa rabbil ka’bah. Demi pemilik Ka’bah, aku telah meraih kemenangan.”, sabda Ali di tengah cucuran darah yang mengalir. Dua hari setelahnya, Khalifah Ali wafat. Ia menemui kesyahidan seperti cita-citanya. Seperti istrinya, Ali juga dimakamkan diam-diam di gelap malam oleh keluarganya di luar kota Kuffah.

Di detik-detik kematiannya, bibir beliau berulang-ulang mengucapkan “Lailahaillallah” dan membaca ayat, “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah. Waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” yang artinya, “Siapapun yang melakukan kebaikan sebiji atompun, dia akan mendapatkan balasannyanya, dan siapa saja melakukan keburukan meski sekecil biji atom, kelak dia akan mendapatkan balasannya.”

Beliau sempat pula mewasiatkan nasehat kepada keluarganya dan juga umat muslim. Di antaranya : menjalin hubungan sanak keluaga atau silaturrahim, memperhatikan anak yatim dan tetangga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, menegakkan shalat yang merupakan tiang agama, melaksanakan ibadah haji, puasa, jihad, zakat, memperhatikan keluarga Nabi dan hamba-hamba Allah, serta menjalankan amr maruf dan nahi munkar.

Islam telah ditinggalkan oleh satu lagi putra terbaiknya. Pengalaman heroik hidupnya telah melahirkan begitu banyak kata-kata mulia yang mungkin akan pula menjadi abadi. Ia menjadi inspirasi bagi setiap pemimpin yang ingin membawa bumi ini pada ketundukan kepada Allah SWT.

Saat ia dicerca dari banyak arah, lahirlah perkataan beliau : “Cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”.

Saat beliau mesti menerima kenyataan pahit berperang dengan sahabatnya sendiri, dan juga mendapatkan persahabatan dari oarng yang dulunya menjadi musuh,lahirlah : "Cintailah sahabatmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu hari".

Beliau juga sangat menghormati ilmu. Tidak terkira banyaknya, kalmat bijak yang keluar dari mulutnya tentang keutamaan mencari ilmu. Ia juga menyarankan orang untuk sejenak merenungi ilmu dan hikmah-hikmah kehidupan. Kata beliau, "Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit".

Khalifah Ali ra adalah sebuah legenda. He is a legend. Dan legenda tidak akan pernah mati. Bisa jadi, saat lilin-lilin di sekitar kita mulai padam satu persatu, dan kita kehilangan panduan karenanya, maka pejamkanlah saja sekalian matamu. Hadirkan para legenda-legenda Islam itu, termasuk beliau ini, dalam benakmu dan niscaya ia akan menjadi penerang bagimu...seterang-terangnya cahaya yang pernah ada di muka bumi.

***

(NB : Ahhhhh... alhamdulillah..., aku berhasil juga menuntaskannya. Kerinduan ini telah ada begitu lama, tapi baru sekarang aku bisa menuliskannya. Dulu, aku tidak pernah bisa mampu menuliskannya. Karena aku tahu, energi yang dibutuhkan buat menulis ini sangatlah besar. Belum sempat ia selesai menulis, energi sudah keburu habis karena terkuras pada mata yang tak henti mengeluarkan airnya, sebuah bentuk lain penitipan salam buat beliau, dari seorang hamba yang bodoh.

Dan bila di tulisan ini tak sempat memuat tahun yang begitu spesifik, atau nama yang tak lengkap, itu karena memang karena ia tidak melalui proses riset yang benar-benar. Tulisan ini cuma mengandalkan ingatan terhadap pengetahuan yang pernah kuserap. kubaca dan kudengar. Jika ada kekeliruan data mohon untuk segera disampaikan, untuk penyempurnaan penulisan.

Kurasa juga, aku telah memasuki babak khusus dalam dunia kepenulisan. yaitu saat dengan menulis kita seperti melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan Spritual. A spiritual journey. Sangat melelahkan memang, tapi juga sangat menenangkan.

Hmmm...lalu apa hubungannya kisah Ali ra dengan judulnya Cinta di atas Cinta?
Entahlah, kurasa perlu sebuah kesabaran buat merangkai hikmah yang berserak dari tulisan ini, buat menjawab pertanyaan besar itu. Mencintainya karena kecintaannya yang begitu besar kepada Allah, ternyata tidaklah mudah. Itulah level cinta tertinggi. Karena dia membutuhkan satu hal penting : cinta diri sendiri kepada Allah lebih dulu.
Itulah pertanyaan pentingnya. Seberapa dalam mahabatullah kita? Kecintaan kita pada Allah seberapa dalamkah? Dangkal bertemu dangkal, dalam bertemu dalam, itu hukum alamnya.

Teriring salam dan sholawat kepada baginda Rasulullah SAW beserta para sahabat, keluarganya, para tabi'in, tabi'it tabi'in, dan umat islam yang berusaha untuk istiqomah di jalan-Nya, ila yaumil qiyamah...


John Forbes Nash, Ilmuan gila yang Meraih Nobel


John Forbes Nash Jr lahir pada 13 Juni 1928 di Bluefield, West Virginia. Ayahnya adalah seorang insinyur listrik dan ibunya bekerja sebagai guru sekolah sebelum menikah dengan suaminya. John dibesarkan di rumah tangga yang penuh kasih sayang yang dipupuk kegeniusannya. Sudah jelas di usia dini yang ia suka bekerja secara mandiri, sering bermain sendirian. 

Ayahnya memberinya buku ilmiah untuk belajar, sementara orangtuanya memastikan bahwa ia menerima pendidikan yang baik. Dia dikenal sebagai eksentrik di sekolahnya, mengingat tarian, olahraga, dan kegiatan sosial lainnya untuk menjadi gangguan dari karyanya dalam studi ilmiah dan eksperimen.


Ia menjadi sadar akan keunggulan intelektual atas rekan-rekannya dan mengembangkan rasa kebanggaan kesombongan dan intens. Ibunya diajari di luar sekolah, sehingga dia melewatkan satu kelas.


Dalam tahun senior sekolah tinggi, John memenangkan beasiswa Westinghouse didambakan, salah satu dari sepuluh diberikan pada bangsa. Dia pergi ke Carnegie Institute of Technology dan, pada 1948, lulus dengan gelar Master setelah hanya tiga tahun. Walaupun ia direncanakan untuk belajar teknik kimia, ia cepat-cepat menemukan cinta matematika dan mengubah besar. Penasehatnya menulis sebuah rekomendasi untuk dia berkata "Orang ini adalah seorang jenius".

Setelah lulus, Yohanes pergi langsung ke Princeton University, di mana ia kagum rekan-rekannya dengan mengembangkan sebuah permainan yang disebut "Nash", yang melibatkan strategi dan perencanaan. Permainan mengambil alih kampus dan John menemukan dirinya membuat beberapa temannya.

Prestasi besar selama waktunya di Princeton adalah untuk mengembangkan teori "Nash Equilibrium", yang diterapkan pada Teori Permainan. Sebelum teorinya, ada anggapan bahwa dalam teori permainan dan kompetisi, semua orang berjuang untuk kepentingan mereka sendiri. Dia mengembangkan gagasan bahwa untuk setiap pemain dalam sebuah permainan, ada solusi yang ideal sehubungan dengan pemain lain tindakan. Meskipun potensi teori tidak menyadari saat itu, ketenaran yang diperoleh selama beberapa dekade.

John jarang menghadiri kelas, bersikeras bahwa hal itu akan merusak orisinalitas nya. Dia terus-menerus mencari cara untuk membangun dirinya dalam bidang matematika untuk menjadi terbesar di dunia matematika. Dia terus-menerus berjalan melewati lorong bersiul Bach's "Little Fugue" dan mengendarai sepeda dalam angka delapan atau tak terhingga simbol di kompleks perguruan tinggi di kampus.

Setelah ia lulus dengan Ph.D, John pindah ke Boston, di mana ia menjadi anggota terkemuka staf pengajar di Massachusetts Institute of Technology. Ia disebut "anak profesor" oleh para mahasiswa sejak ia masih sangat muda, tapi ia menganggap dirinya sangat elit. Rekannya ada terganggu oleh kesombongan, tetapi mentolerir itu karena kegeniusannya. Dia cepat mulai membuat penemuan besar dalam matematika dalam bidang-bidang seperti geometri dan persamaan diferensial parsial.Pada 1958, ia tampil dalam Fortune Magazine sebagai salah satu bintang cemerlang di bidang matematika. Namun, ia masih menganggap dirinya gagal karena ia belum mencapai Field medali, penghargaan tertinggi dalam matematika.

Ketika mengajar di MIT, John bertemu dengan seorang wanita bernama Eleanor Stier dan kemudian menemukan bahwa dia hamil dengan anaknya. Setelah kelahiran, John menolak untuk mengakui bahwa itu adalah putranya, tapi terus melakukan hubungan seksual dengannya, bahkan setelah ia menjadi terlibat asmara dengan seorang murid bernama Alicia Larde. Alicia adalah seorang mahasiswa di MIT dan salah satu dari hanya enam belas perempuan dalam kelas delapan ratus.Pada bulan Februari tahun 1957, ia menikah dengan Alicia dan mereka punya anak pada tahun 1959.

Pada saat ini, kondisi mental John mulai memburuk. Diperkirakan bahwa istirahat psikotik terjadi terutama dari kecemasan tentang pekerjaannya dan Alicia kehamilan. Pertama teman-temannya memperhatikan tingkah laku aneh ketika ia tiba di Malam Tahun Baru pesta berpakaian seperti seorang bayi dan menghabiskan sepanjang malam meringkuk di pangkuan Alicia, mengisap ibu jarinya. Dalam teori permainan Tentu saja, ia ditunjuk seorang mahasiswa pascasarjana untuk mengajar dan menghilang selama beberapa minggu, tiba-tiba muncul di umum di MIT. Di sana, ia mulai berseru bahwa orang asing itu mengirimkan pesan dienkripsi melalui New York Times. Dia juga sela kuliah untuk mengatakan bahwa dia di sampul majalah LIFE, menyamar sebagai paus, dan ia tahu ini karena twenty-Three bilangan prima favoritnya.

Di kampus, ia mulai melihat banyak orang memakai dasi merah.Ia berpikir bahwa orang-orang adalah anggota organisasi komunis rahasia dan mulai memperhatikan mereka dengan hati-hati. Ketika University of Chicago menawarkan posisi bergengsi di fakultas mereka, John menolaknya, mengatakan bahwa ia dijadwalkan untuk menjadi kaisar dari Antartika. Ia berbicara dengan rekan-rekannya tentang makhluk luar angkasa dan rahasia instansi pemerintah bekerja untuk menghancurkan kredibilitas dan reputasi, sangat mengganggu mereka. Ketua departemen matematika lega Yohanes dari ajaran-Nya tanggung jawab, berpikir bahwa ia mengalami gangguan saraf.

Akhirnya, John McLean diopname di rumah sakit swasta di dekat Boston. Yohanes takut dikurung, berpikir bahwa ia tidak berada di sana. Ia didiagnosis sebagai skizofrenia paranoid dan diberikan Thorazine untuk menenangkannya. Perawatannya ada psikoanalisis dan para dokter menyebutnya sebagai "Profesor".

Setelah ia dibebaskan, ia mengundurkan diri dari MIT dan menarik kembali pensiun untuk pindah ke Eropa. Di Eropa, ia melakukan berbagai upaya untuk melepaskan kewarganegaraan di Amerika Serikat dan menyatakan status pengungsi. Alicia mengikutinya ke Eropa dan menyuruhnya dideportasi kembali ke Amerika Serikat. Meskipun ia diterbangkan kembali ke Amerika Serikat, ia mengklaim bahwa ia telah dimasukkan ke dalam rantai dan dikirim kembali dalam sebuah kapal, seperti seorang budak.

Kembali di Amerika Serikat, John mulai berkeliaran di Princeton, berbicara tentang dirinya sebagai orang ketiga, menulis kartu pos aneh, dan ceramah tanpa henti tentang numerologi.Alicia mengambil pekerjaan di Princeton dan dikelola untuk mendukung keluarga mereka.Dia berhasil meyakinkan staf pengajar di Princeton untuk memberikan suaminya sejumlah kecil bekerja dalam matematika dalam upaya untuk membantu dia kembali ke masyarakat. Namun, ia menolak menandatangani formulir W-4 mengatakan bahwa pemerintah bersekongkol melawan dia.Dia melanjutkan untuk membuat panggilan telepon ke anggota keluarganya dengan menggunakan nama fiktif.

Pada tahun 1961, John sudah dilakukan oleh Alicia dan saudara-saudara perempuannya ke Trenton State Hospital di New Jersey. Di sana, ia menjadi sasaran terapi koma insulin, yang melibatkan menyuntik pasien dengan insulin dalam jumlah besar untuk menyimpannya ke dalam koma, sering menyebabkan kejang. Rekan-rekannya dalam matematika marah dan menulis surat ke rumah sakit, mendesak para dokter untuk melindungi pikirannya untuk kebaikan umat manusia.Dia habis setelah enam bulan perawatan insulin dan tampak sangat mengerikan kepada anggota keluarganya.

Mantan rekan di Princeton menemukan dia beberapa penelitian dan ia menerbitkan sebuah makalah tentang Dinamika fluida, pekerjaan pertamanya dalam empat tahun. Dia pergi ke Eropa lagi, mengirim kartu pos aneh untuk keluarganya dengan pesan samar dan matematika teorema.Dia kembali tak lama kemudian, tampak agak kuyu.
Seiring waktu idenya dari sebuah titik ekuilibrium dalam teori permainan akhirnya menarik perhatian yang tepat dan menjadi landasan ekonomi modern. Para ekonom kebanyakan menggunakan ide-ide untuk mencoba memprediksi kejadian dalam perekonomian dunia.Anggota komite Nobel akhirnya memutuskan untuk Nash penghargaan Nobel dalam Ekonomi pada tahun 1994, meskipun kekhawatiran dari dirinya menyebabkan rasa malu besar.Orang-orang terkejut bahwa seseorang menderita skizofrenia selama bertahun-tahun bisa pulih dan menerima penghargaan bergengsi tersebut.
Dia telah menikah lagi sejak Alicia dan menemukan bahwa anaknya sendiri juga menderita skizofrenia. Ia juga menghubungkan kembali dengan putra sulungnya, John Stier. Hidupnya diabadikan dalam film "A Beautiful Mind", dengan karakter yang diperankan oleh Russell Crowe.

Biografi KH. Ahmad Dahlan, Sebuah Riwayat Sang Pencerah


 

BIODATA

Nama:
KH Ahmad Dahlan
Nama Kecil:
Muhammad Darwisy
Lahir:
Yogyakarta, 1 Agustus 1868
Meninggal:
Yogyakarta, 23 Februari 1923
Agama:
Islam

Isteri:
- Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah, dikaruniai enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah).
- Nyai Abdullah, janda H. Abdullah
- Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak
- Ibu Nyai Aisyah (dikarunia satu anak)
- Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta

Ayah:
KH Abu Bakar
Ibu:
Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim)
Saudara:
Tujuh bersaudara

Pendidikan:
- Pesantren, Yaogyakarta, agama dan bahasa Arab, sampai 1883
- Menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah, 1883-1888, dari pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibn Taimiyah
- Memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah, 1902-1904

Karir:
- Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta
- Khatib Masjid Besar Yogyakarta
- Guru Agama Islam di OSVIA Magelang dan Kweekschool Jetis Yogyakarta.
- Pendiri sekolah guru Madrasah Mu'allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu'allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah)

Organisasi:
- Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah
- Aktif di Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Penghargaan:
Pahlawan Nasional (Surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961).

Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, inilah yang mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912. Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923.

KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Ia mendirikan Muhammadiyah bukan sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan.

Pada saat Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia mendapat tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari keluarga dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. 1)

Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat pokok penting yakni: Pertama, KH Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.

Kedua, dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam. Ketiga, dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam. Keempat, dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan.

Diasuh di Lingkungan Pesantren
Muhammad Darwisy lahir dari keluarga ulama dan pelopor penyebaran dan pengembangan Islam di tanah air. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibunya, Nyai Abu Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Ia anak keempat dari tujuh orang bersaudara, lima saudaranya perempuan dan dua lelaki yakni ia sendiri dan adik bungsunya. Dalam silsilah, ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). 2)Idem

Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul'llah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Sejak kecil Muhammad Darwisy diasuh dalam lingkungan pesantren, yang membekalinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun (1883), ia sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Ia pun semakin intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Darwisy.

Semangat, jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.

Setelah lima tahun belajar di Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Darwisy kembali ke kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Lalu, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah hingga tahun 1904.

Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).

Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Mendirikan Muhammadiyah
Semangat, jiwa dan pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, yang diperolehnya dari Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, ibn Taimiyah dan lain-lain selama belajar Makkah (1883-1888 dan 1902-1904), kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).

Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.

Dahlan sendiri sadar bahwa semaangat pembaharuannya tidak akan serta-merta dapat dipahami dan diterima keluarga dan masyarakat sekitarnya. Tidak mudah melakukan pemharuan pada suatu sifat ortodoks yang sudah membeku. Maka, entah terkait atau tidak, ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri.

Bunyinya demikian: "Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dalam artikel riwayat Ahmad Dahlan di situs resmi Parsyarikatan Muhammadiyah (muhammadiyah.or.id), pesan ini disebut menyiratkan sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah.

Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.

Dijelaskan dalam artikel itu, kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi. Perkumpulan, parsyarikatan dan gerakan dakwah: Muhammadiyah.

Dahlan pun memilih strategi yang amat baik dengan lebih dahulu membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, sekaligus meneruskan cita-citanya memajukan bangsa ini. Apalagi ia berkesempatan mengakselerasi dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah itu dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta. Karena, ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk mengajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.

Tentu saja para calon pamongpraja tersebut dapat diharapkan mengaselerasi dan memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Begitu pula para calon guru akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, kepada murid-muridnya. Guna mengintensifkannya, Dahlan pun mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu'allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu'allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah). Di sekolah ini, Dahlan mengajarkan agama Islam dan menyebarkan cita-cita pembaharuannya.

Dahlan dikenal sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Dengan gagasan-gagasan cemerlang dan kegiatan kemasyarakatannya, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat. Termasuk dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Pada tahun 1912, tepatnya tanggal 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam. Ia punya visi untu melakukan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits.

Berbagai tantangan ia hadapi sehubungan dengan gagasan pendirian Muhammadiyah itu. Bahkan ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Kiai palsu. Sampai ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar.

Dahlan teguh pada pendiriannya. Pada tanggal 20 Desember 1912, ia mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Tampaknya, Pemerintah Hindia Belanda ada kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Sehingga izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta
Namun, walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah.

Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kan,u wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).

Gagasan pembaharuan Islam, Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkumpulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersalahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap membangun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.

Muhammadiyah juga dituduh hendak mengadakan tafsir Qur'an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan perkataan, "Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur'an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur'an dan Hadits. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir".

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Sebagai salah seorang keturunan bangsawan yang menduduki jabatan sebagai Khatib Masjid Besar Yogyakarta, ia mempunyai penghasilan cukup tinggi. Ia juga berkecimpung sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik.

sumber: muhammadiyah.or.id 
 
Tahukah Kamu »