Techno »

LIRIK LAGU »

Download »

Followers

Showing posts sorted by relevance for query sby. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sby. Sort by date Show all posts

Makanan-makanan Favorit SBY di Istana

Selama menjadi Presiden, banyak hal yang belum diketahui masyarakat tentang pribadi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, masyarakat tidak pernah tahu apa masakan favorit SBY di Istana.


Bagi masyarakat yang hobi mengonsumsi pecel lele, pecel madiun, atau telur dadar bawang jangan berkecil hati . Sebab, masakan kategori itu ternyata menjadi menu favorit SBY di Istana . Hal ini terungkap dalam sebuah buku bertajuk “Pak Beye dan Istananya” karya Wisnu Nugroho.

pecel madiun

telur dadar

Suatu siang pada pertengahan Maret 2006 di Istana, kala itu SBY usai menerima tamu sejumlah guru dan murid dari SD Al Azhar I Jakarta. SBY mengajak tiga wartawan ke ruang makan kecilnya. Ruang makan kecil dengan meja makan berkursi enam berada di sisi timur ruang kerja. Ruang makan ini tersembunyi karena berada di dalam lorong.

“Sudah makan siang belum? Mau lihat makan siang Presiden?” Tanya SBY kepada para wartawan. Para wartawan yang berada di depan SBY langsung celingukan dan bertanya, siapa gerangan yang diajak bicara. Tanpa menunggu jawaban, SBY mempersilakan. Di dalam ruangan kecil itu, para wartawan tersenyum lebar melihat dan mendengar menu kesukaan SBY [kira2 menu kesukaan SBY apa y Gan?


Untuk menu makan siang lainnya juga terbilang biasa. Ibu Budi yang setiap hari belanja ke pasar tradisional di dekat Istana kerap masak gado-gado, pecel, trancam, sayur asem, ikan asin, tahu goreng, tempe goreng, empal, dan menu makanan lainnya, sesuai dengan pesanan dan keinginan SBY.

Dari sekian jenis lauk pauk yang bisa dijadikan camilan, SBY paling suka digorengkan tahu sumedang. Jika masih hangat dan ada cabe rawit yang menyertainya, sepuluh butir tahu bisa dihabiskan. Sekalipun lahir di Pacitan, SBY gemar tahu sumedang yang dikenalnya sejak ditugaskan di Jawa Barat usai lulus dari Akabri, 1973.

gado-gado


ikan asin

empal

tahu sumedang

Sumber : http://www.taukahkamu.com/2010/09/apa-sih-makanan-pak-sby-di-istana.html

SBY Keseleo Lidah


SBY Salah Ucap, Sebut Larasita dengan Larasati

Layanan Rakyat untuk Sertifikat Tanah (Larasita) yang digagas oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) memang belum familiar didengar. Sehingga, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun salah ucap.

Saat memberi sambutan dalam peluncuran kapal motor serta mobil Larasita di pantai Marunda, SBY keselip lidah. "Larasati, eh, saya luruskan, Larasita," kata SBY disambut tawa ribuan peserta yang hadir.

Semua peserta, termasuk SBY dan Ibu Ani Yudhoyono pun ikut terpingkal-pingkal.

Untungnya, SBY cuma sekali saja salah mengucap Larasati. Meski dalam sambutannya dia banyak menyebut program BPN yang namanya memang mirip dengan nama perempuan itu.

Dalam sambutannya SBY menuturkan, saat awal-awal pemerintahannya yang pertama, banyak tanah yang terlantar. Konflik kepemilikan atas tanah marak terjadi, serta sulitnya sertifikasi atas tanah.

Namun, setelah 3 tahun masa pemerintahan, SBY menginstruksikan kepada Kepala BPN untuk melakukan perbaikan-perbaikan di bidang pertanahan.

"Tugas itu tidak ringan. Kerja keras terus dilakukan siang dan malam," lanjut SBY disambut tepuk tangan, tapi ada juga peserta yang tertawa dengan ucapan SBY tersebut.

Usai acara, SBY meninjau mobil Larasita serta kapal motor Larasita yang dipajang di sepanjang pantai Marunda.

sumber: http://id.news.yahoo.com/dtik/20100115/tpl-sby-salah-ucap-sebut-larasita-dengan-b28636a.html

Schapelle Corby Ratu Ganja, Dapat Grasi Dari SBY


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya menandatangani pemberian grasi kepada terpidana ratu mariyuana asal Australia, Schapelle Corby. Tidak tanggung-tanggung, Corby mendapat pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara. (photo : ilustrasi Syaifud Adidharta)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya menandatangani pemberian grasi kepada terpidana ratu mariyuana asal Australia, Schapelle Corby. Tidak tanggung-tanggung, Corby mendapat pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara. (photo : ilustrasi Syaifud Adidharta)
Schapelle Corby Ratu Ganja, Dapat Grasi Dari SBY-Segala tindakan kejahatan dalam bentuk apapun memang seharusnya mendapatkan tempat hukum yang setimpal-timpalnya. Maka di dalam pemberian hukuman kepada pelaku kejahatan apapun juga seharusnya diberlakukan dengan keadilan hukum, bukan karena keadilan  siapa yang kuat dan siapa yang banyak uang. Ini sangatlah berbahaya bagi perlakuan hukum yang ada di negeri tercinta ini. Terutama bagi masyarakat kecil yang memilkik kasus hukum. Sudah tentu mereka akan langsung dijebloskan didalam hukum yang tidak berpihak akan keadilannya hukum.
Namun kenyataannya demikian yang terjadi di negeri tercinta ini, Indonesia. Hukum adil untuk yang kuat, yang berkuasa dan yang banyak memiliki harta berlimpah serta pengaruh-pengaruh lainnya. Inilah bingkai hukum di Indonesia yang sesungguhnya, buktinya seperti peristiwa yang sedang bomingnya saat ini.
Entah ada apa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dia adalah presiden Republik Indonesia saat ini yang sedang berkuasa. SBY tanpa mau mempertimbangkan matang-matang atas segala tindakannya yang diberikan kepada Ratu Mariyuana, Schapelle Corby, asal negeri kangguru Autralia. Ada apakah semua ini ?.
Schapelle Corby si ratu Mariyuana mendapat pengurangan hukuman lima tahun setelah Presiden SBY menandatangani pemberian grasi. Corby mendapat pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara. Pemberian grasi itu diharapkan tidak memberi kesan Indonesia lemah terhadap Australia. Benarkah demikian ?.
Schapelle Corby sejak mendapatkan grasi dari SBY yaitu  pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara atas kasusnya soal Narkoba,Schapelle Corby begitu gembiranya, apalagi setelah mendapatkan salinan keputusan grasi Presiden Yudhoyono pada hari Rabu, tanggal 23 Mei 2012 di LP Kerobokan, Badung-Bali.
Padahal hampir seluruh rakyat Indonesia tahu bahwa Schapelle Corby, si ratu Mariyuana itu ditangkap aparat Bea dan Cukai di Bandara Ngurah Rai, Bali pada 8 Oktober 2004 lalu. Dan kasusnyapun dilimpahkan kepada PN (Pengadilan Negara) Denpasar Bali. Dalam persidangannya jelas bahwa kasus Schapelle Corby ini sangat berat, justru seharusnya dia mendapatkan hukuman mati, akan tetapi PN Denpasar menjatuhkan hukuman kepada dirinya selama 20 tahun didalam tahanan (penjara).
Sejatinya jelas Schapelle Corby dihukum pidana 20 tahun penjara oleh majelis hakim di PN Denpasar pada 27 Mei 2005 karena kasus penyelundupan narkoba jenis Mariyuana itu. Atas putusan ini Schapelle Corby mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar pada 12 Oktober 2005 dan kemudian divonis 15 tahun kurungan penjara.
Tetapi pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA) 12 Januari 2006, Schapelle Corby kembali divonis 20 tahun penjara. Menyikapi hal ini, Corby melalui pengacaranya mengajukan grasi kepada Presiden SBY. Upaya Schapelle Corby akhirnya tidak sia-sia, diapun memperoleh pemotongan hukuman lima tahun penjara dari Presiden SBY beberapa hari lalu. Sejak awal perkara Schapelle Corby tersebut pada akhirnya saat ini banyak mendapat perhatian serius dari pemerintah Australia. Pemerintah Autralia pun mengacungkan jempol kepada keberania SBY yang telah berani dan tegas mengeluarkan keputusan atas pemberian grasi untuk si ratu Mariyuana tersebut, Schapelle Corby. Dan tidak tanggung-tanggung kepala negara Autralia langsung saya memberi like online ke jejaring sosial milik SBY, baik di halaman SBY di facebook maupun di twitter.
Memang benar presiden di negara manapun memiliki hak prerogatif tentang grasi untuk para tahanan, baik tahanan politik maupun tahanan tindakan kriminalitas apapun. Begitu pula di Indoneia, hak prerogatif presiden di Indonesia memang sudah diatur dan disahkan oleh Undang-undang negara tentang perundangan,  peraturan serta ketentuan pemberlakuan hukum kepada pelaku tindakan pelanggaran hukum.

Schapelle Leigh Corby, saat menerima remisi Natal tahun 2008. (photo : Muhammad Hasanudin - Kompas.co)
Schapelle Leigh Corby, saat menerima remisi Natal tahun 2008. (photo : Muhammad Hasanudin - Kompas.com)
Sementara itu menurut Ketua MPR, Taufiq Kiemas, pemberian grasi terhadap Schapelle Corby oleh Presiden SBY dilihat sebagai keberhasilan diplomasi pemerintah Australia untuk membebaskan warganya, dan sah-sah saja jika pemerintah melakukan langkah diplomatik tersebut.
“Memang banyak kalangan tidak setuju. Kalau saya sih, pemerintah Australia berusaha membebaskan orang dia. Saya rasa kalau orang Australia berusaha begitu ya tidak salah juga,” ujar Taufiq usai Seminar Nasional Memperingati Hari Kebangkitan Nasional bertajuk ‘Merindukan Negarawan’ di Hotel Gran Melia, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, pada hari Kamis  24  Mei 2012.
Akan tetapi Taufiq Kiemas menegaskan, bahwa upaya diplomasi yang ditempuh pemerintah Australia bukan lah bentuk intervensi negara Kangguru tersebut terhadap kedaulatan hukum di Indonesia. Pemberian grasi tersebut, menurut suami dari Megawati Soekarnoputri ini, lebih sebagai hak prerogatif presiden SBY yang harus dihargai, dan juga sebagai upaya penghargaan negara atas HAM itu sendiri.
Di lain tempat, Kemenkum HAM sebelumnya mengusulkan agar napi wanita tersebut diberi grasi dengan pengurangan hukuman 5 tahun penjara. Usulan ini diajukan karena pemerintah berharap ada perlakuan serupa terhadap tahanan Indonesia di Australia. Alasannya pemerintah adalah, adanya grasi selama lima tahun terhadap Schapelle Corby tentu berdasarkan alasan. Pemerintah memiliki sejumlah pertimbangan. Apa saja?
Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi menjelaskan, pertimbangan pertama, grasi itu merupakan sistem hukum yang sah di Indonesia. Selain itu, Sudi meminta saran dari Mahkamah Agung (MA) dan menteri yang terkait usulan ini.
“Tentu pertimbangan itu mengarah pada untuk dipenuhinya grasi,” ujar Sudi.
Menurut dia, pemberian grasi bukan berarti memberikan toleransi kepada kasus narkoba di Indonesia. Sebab, sistem grasi ini sudah berlaku sejak lama dan berhak dikeluarkan oleh presiden. “Tidak, tidak (menoleransi kasus narkoba),” kata Sudi.
Selain beberapa pertimbangan faktor utama yang menjadi penyebab pengurangan hukuman Schapelle Corby, adalah jenis narkoba yang dibawanya ke Indonesia. Sudi menilaiSchapelle  Corby membawa ganja, bukan jenis narkoba lain seperti heroin dan ekstasi.
“Schapelle Corby ini bukan berkaitan dengan heroin atau yang lainnya yang memang berat tetapi dia betul ganja. Ganja pun tidak sampai pada puluhan kilo atau ratusan kilo seperti yang biasa ditangkap polisi jumlahnya ton-tonan. Jadi beberapa kilo ganja diganjar puluhan tahun, sementara di negara tertentu tidak terjadi kriminalisasi terhadap ganja,” terangnya.
Inilah kilasan-kilasan yang terjadi soal perlakuan hukum terhadap Schapelle Corby di ratu Mariyuana yang mendapatkan grasi istimewa 5 tahun (pengurangan hukuman) dari presiden SBY. Dari kilasan-kilasan diatas tersebut tentunya berbeda pendapat yang dimiliki banyak orang yang pernah mengalami ketidak adilan dalam hukum yang didapatinya.
Dengan demikian maka tidaklah salah bila ada sebagian banyak orang beranggapan bahwa Schapelle Corby mendapatkan perlakuan istimewah dari presiden SBY atas pengurangan hukumannya adalah tidak lepas adanya peran para pelaku Mafia Hukum dibelakang layar, dan tidak serta-merta atas keberhasilan diplomasi pemerintah Autralia itu sendiri.
Pasalnya, perkembangan sosial dan budaya dalam penyelenggaraan negara dewasa ini tampak ada yang sangat memprihatinkan dalam konteks ideologi pada hukum. Betapa manusia-manusia yang mengklaim sebagai produk dari proses reformasi telah dengan lantang menafikan makna terdalam Pancasila.
Apa yang tidak tepat dengan nilai-nilai dasar Pancasila yang siapapun secara sadar semestinya mengakui sebagai nilai-nilai keabadian. Nilai-nilai Pancasila dengan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan adalah agung dan menakjubkan.
Sementara banyak pakar hukum dari belahan dunia Barat dan Timur telah mengkaji bahwaPancasila dengan kesimpulan yang senada betapa beruntungnya bangsa Indonesia yang telah mampu menggali dan berdiri di atas Pancasila.
Kita semua tahu bahwa berdasarkan UUD 1945 adalah bahwa Indonesia merupakan Negara Hukum. Namun kini kita menyaksikan bahwa hukum di Republik Indonesia sedang menapaki kisahnya di era reformasi yang tidak berwibawa.
Hukum disinyalir benar-benar ada dalam titik ketidakberdayaan melawan keangkuhan sosial dan dominasi politik. Salah satu fungsi hukum adalah alat penyelesaian sengketa atau konfli k, disamping fungsi yang lain sebagai alat pengendalian sosial dan alat rekayasa sosial. Pembicaraan tentang hukum barulah dimulai jika terjadi suatu konflik antara dua pihak yang kemudian diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Dalam hal ini munculnya hukum berkaitan dengan suatu bentuk penyelesaian konflik yang bersifat netral dan tidak memihak.
Pelaksanaan hukum di Indonesia sering dilihat dalam kacamata yang berbeda oleh masyarakat. Hukum sebagai dewa penolong bagi mereka yang diuntungkan, dan hukum sebagai hantu bagi mereka yang dirugikan. Hukum yang seharusnya bersifat netral bagi setiap pencari keadilan atau bagi setiap pihak yang sedang mengalami konflik, seringkali bersifat diskriminatif , memihak kepada yang kuat dan berkuasa. Penegakan hukum merupakan masalah penting yang harus segera ditangani.
Masalah hukum ini paling dirasakan oleh masyarakat dan membawa dampak yang sangat buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Persepsi masyarakat yang buruk mengenai penegakan hukum, menggiring masyarakat pada pola kehidupan sosial yang tidak mempercayai hukum sebagai sarana penyelesaian konflik, dan cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka di luar jalur. Cara ini membawa akibat buruk bagi masyarakat itu sendiri.
Pemanfaatan penegakan hukum oleh sekelompok orang demi kepentingannya sendiri, selalu berakibat merugikan pihak yang tidak mempunyai kemampuan yang setara. Akibatnya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan tumbuh subur di masyarakat Indonesia. penegakan hukum yang konsisten harus terus diupayakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hukum di Indonesia.
Inilah yang tidak pernah menjadi hikmah untuk banyak orang para pelaku dan penggerak keadilan pemberlakuan hukum di Indonesia. Hukum hanya komoditi ekonomi untuk perut sendiri, kekuasaan, jabatan dan tahta, dan kekuatan semena-mena terhadap si lemah. Sampai kapan Hukum di Indonesia itu benar-benar bisa adil untuk rakyat negeri ini, dan sampai kapan hukum di Indonesia bisa di beli dan di intervensi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab ?.

Tingkah Laku Aneh Para Presiden Indonesia

Habibie
Presiden Pintar yang Tidak Pernah Mau Kalah
Meski sekian lama menjadi bagian dari masa pemerintahan Soeharto dan menganggap Soeharto adalah guru sekaligus bapaknya, namun gaya kepemimpinan Habibie jauh bertolak belakang dengan orang yang dihormatinya itu. Muladi, mantan Menteri Kehakiman di era Orde Baru menuturkan, sidang kabinet yang dipimpin Soeharto selalu berlangsung dalam suasana mencekam.

Para menteri takut angkat tangan mengajukan diri untuk bicara. Sementara di zaman Habibie, para menteri justru berebut mengacungkan jari. Muladi menggambarkan, susana sidang kabinet seperti sebuah seminar: riuh, panas, kadang gebrak-gebrak meja seperti mau kelahi.

Habibie sendiri yang merangsang suasana seperti itu karena dia memang senang berdebat. Semakin didebat ia semakin bersemangat. Karena semua menteri boleh bicara dan perdebatan dibuka seluas-luasnya sebelum diambil keputusan, sidang kabinet bisa berlangsung sampai larut malam.

Habibie, menurut adalah seorang extrovert. Gaya komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan risikonya. Tatkala Habibie dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat, rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya.

Karakteristik ini diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari Indonesia.

Semua orang terkejut, terutama Almarhum Ali Alatas yang kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, ketika Habibie tiba-tiba mengumumkan kepada dunia internasional tentang pemberian opsi kepada rakyat Timor Timur : tetap bergabung dengan Indonesia atau melepaskan diri sebagai negara merdeka.

Biang keladi dari keputusan besar ini adalah sepucuk surat Perdana Menteri Astralia kala itu, John Howard, yang ditujukan pada Habibie pada Desember 1998. Menurut penuturan Juwono Soedarsono, Habibie marah membaca isi surat Howard yang meminta Indonesia mempertimbangkan hak politik rakyat Timor Timur untuk menyatakan penentuan nasib sendiri.

Habibie merasa surat itu seperti tantangan sekaligus kritik terhadap pemerintah Indonesia. Karena Habibie mempunyai tabiat tidak mau kalah dengan siapapun maka tantangan itupun secara spontan dijawab.

Dalam sidang kabinet 27 Januari 1999 kebijakan pemberian opsi ini dipertanyakan oleh Hendropriyono yang kala itu menjabat sebagai Menteri Transmigrasi. “Kalau plebisit kalah, bagaimana? Siapa bertanggung jawab? Ini kan nanti akan terjadi eksodus, eksodus dari para transmigran yang sudah 25 tahun di sana. Siapa yang bertanggung jawab?” cecar Hendro seperti ditulis dalam buku itu.

Habibie dengan sigap menjawab,”Saya bertanggung jawab.”
Fahmi Idris, Menteri Tenaga kerja, segera menimpali,”Tanggung jawab apa, Presiden?” Wajah Habibie tampak merah. Seorang menteri dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lantas menengahi situasi panas ini.


Gus Dur
Tidur Saat Pertemuan dengan PM Korea

Suatu ketika, pada era pemerintahan Gus Dur, Laksamana Sukardi (Menteri Negera Badan Urusan Negara) ikut serta dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa dan Asia. Jadwal Presiden sangat ketat sehingga membuatnya teler. Para anggota rombongan pun kelelahan luar biasa.

Di Seoul, Gus Dur menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Korea. Kedua pemimpin negara duduk berdampingan. Perdana Menteri Korea berbicara kalimat demi kalimat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Rupanya, karena sangat lelah dan tidak menarik mendengarkan terjemahan, Gus Dur tertidur.

Pada salah satu bagian, PM Korea berujar, ”Mr President, we have an excelent nuclear technology for power plant. If you are interested, we would be happy to have it for you.
(Tuan Presiden, kami memiliki teknologi nuklir yang canggih untuk pembangkit tenaga. Kalau Anda berminat, kami bisa mengusahakannya untuk Anda),”

Pemerintah Korea menawarkan bantuan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik Indonesia.

Saat itu, Gus Dur tidur pulas sekali. Selesai pernyataan itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris, PM Korea menoleh ke arah Gus Dur menunggu jawaban. Namun, tidak ada jawaban. Laksamana cepat-cepat membangunkan Gus Dur. “Gus… Gus… bangun! Gus… dia tanya apakah kita interested dengan power plant technology yang dia punya.”

Gus Dur karena baru terbangun dari tidurnya dan belum berkonsentrasi langsung nyeplos, “My Minister ask about your nuclear technology…! (Menteri saya bertanya tentang teknologi nuklir yang Anda miliki),”

Laksamana geli bercampur malu. Anggota rombongan pun tersipu-sipu, tidak berani melihat wajah PM Korea. “Kita semua malu. Merah muka kita di hadapan Perdana Menteri Korea,” tutur Laksamana.

Menggebrak Meja

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah presiden Indonesia ke-4. Masa kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001). Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais dan digantikan Megawati Soekarnoputri.

Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia, namun sepak terjangnya banyak menuai kontroversi.

Manuver-manuvernya sulit dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Gus Dur tidak bisa memisahkan statusnya sebagai kiai dan Presiden Republik Indonesia. Statusnya sebagai kiai bahkan kerap lebih menonjol daripada sebagai Kepala Negara.

Akibatnya, komunikasi politik Gus Dur kacau. Sebagai kiai Gus Dur adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja, termasuk terbuka terhadap segala informasi yang dibisikan kepadanya. Cilakanya, Gus Dur sering percaya begitu saja pada bisik-bisik orang tanpa pernah lagi mengeceknya. Gara-gara bisik-bisik ini pula ada orang kehilangan kesempatan emasnya berkarir di luar negeri.

Laksamana Sukardi, kala itu Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara, menuturkan dalam buku tersebut, suatu kali dipanggil Gus Dur ke istana. Gus Dur menyampaikan, ada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan reputasi sangat baik. Ia masih muda dan pintar. Gus Dur ingin Laksamana mencarikan posisi untuk orang itu.

“Dia pintar sekali. Lalu dia mau ditarik ke New York. Kan, sayang kalau ada anak muda yang pintar, masak kerja di luar negeri. Tolong, deh,” ucap Gus Dur seperti ditirukan Laksamana.
Tak lama setelah hari itu, Laksamana kembali menghadap Gus Dur. Ada posisi lowong sebagai direksi Indosat. “Gus, ingat enggak ini orang, anak muda yang tempo hari Gus titipkan ke saya? Dia lebih cocok di Indosat, Gus,” kata Laksamana.

Gus Dur rupanya sudah lupa. Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba ia menjawab lantang,”Enggak bisa itu orang!” “Lho, kenapa, Gus?!” Laksamana terperanjat. ”Dia bawa lari isteri orang.” Laksamana kaget setengah mati. Pasalnya, ia sudah menyuruh orang itu keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, bahkan diminta secepatnya keluar karena ada perintah Presiden. Orang itupun sudah ada di Indonesia. Laksamana kemudian meminta orang itu menghadap ke kantornya.

”Mas, kok Gus Dur bilang kamu bawa lari isteri orang?” tanya Laksamana. ”Demi Allah, Pak! Saya masih dengan isteri saya yang sekarang,” jawab orang itu.

Usut punya usut, ternyata Gus Dur mendapat bisikan dari orang tertentu tentang anak muda ini. Dan, faktanya bisikan itu tidak benar. Anak muda bergelar PhD ini akhirnya bekerja di sebuah bank swasta. Laksamana merasa kasihan. Bagaimana tidak! Karirnya di perusahaan luar negeri itu sudah bagus, tapi garagara seorang pembisik nasibnya jadi kacau balau.

Menangis Meraung-Raung

Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang emosional. Bila marah, ia bisa menggebrak meja dan kata-kata keras meluncur dari mulutnya. Salah seorang mantan menteri yang tidak bersedia disebutkan namanya menuturkan, ia pernah dimarahi habis-habisan.

Ceritanya begini:

Ada seorang kerabat Gus Dur duduk dalam pemerintahan. Sebut saja namanya XZ. Gus Dur sebenarnya tidak pernah mengangkat XZ. Namun, seorang pimpinan salah satu instansi pemerintah mengangkat XZ sebagai pejabat eselon 1. Mungkin, orang itu berpikir dengan mengangkat kerabat Gus Dur karirnya akan jadi lebih baik mengingat kedekatan XZ dengan Gus Dur.

Namun, sebagai pejabat eselon 1, XZ diketahui kerap “memeras” sejumlah konglomerat keturunan Tionghoa. Para pengusaha ini mendapat semacam “bantuan” tapi dengan imbalan yang sangat besar. Sang menteri tersebut, sebut saja AB, melaporkan perilaku XZ kepada Gus Dur. Gus Dur marah.

AB dicaci maki Gus Dur karena Gus Dur tidak memercayai laporan AB. Beberapa hari kemudian, AB dipanggil Gus Dur ke istana. Pertemuan empat mata. Begitu masuk ke ruang kerja Gus Dur, AB melihat Gus Dur menangis meraung-raung. Ia tampak dilanda kesedihan luar biasa. Lama Gus Dur tidak bisa bicara, hanya menangis dan menangis.

AB bingung, tidak tahu apa yang sedang dialami Gus Dur. Ia berusaha menenangkan Gus Dur. “Gus, tenang, Gus. Tenang, Gus! Ada masalah apa?” ucapnya sambil mengusapi dan memijat-mijat tangan Gus Dur. Sesaat kemudian, Gus Dur berusaha menguasai dirinya, sebelum akhirnya membuka suara.

Intinya, ia mengakui kebenaran informasi tentang perilaku XZ yang pernah disampaikan AB. “Saya malu! Sangat malu! Ternyata, apa yang kamu laporkan kepada saya memang benar semua! Kurang ajar dia!” ujar Gus Dur. Sejak saat itu, dan selama setahun lebih, Gus Dur tidak pernah menyapa XZ.

Megawati

Lebih Antusias Bicara Soal “Shopping”

Megawati Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya seorang pengikut fanatik pepatah kuno “Silence is Gold”. Tapi, diamnya Megawati seringkali kelewatan. Ia tetap tak bersuara bahkan ketika negeri ini membutuhkan kejelasan sikapnya.

Sampai-sampai (Alm) Roeslan Abdulgani, tokoh pejuang 45, berseru, “Megawati bicaralah sebagai Presiden!”

Alkisah pada suatu hari, saat masih menjabat sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri tampak tengah berbincang lama sekali dengan seorang menterinya di kediaman resminya, di Jl Teuku Umar, Jakarta. Sementara perbincangan berlangsung, seorang pembantu dekatnya yang lain menunggu dengan gelisah.

Pasalnya, ia sudah menunggu lama lewat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu. Usai pembicaraan Megawati dengan menterinya, pembantu ini bertanya kepada si Menteri. “Lama amat sih kamu ngobrolnya. Apa saja sih yang dibahas?”

”Enggak ada, Mas. Kita ngobrol hal-hal lain yang enggak ada kaitannya dengan negara!” jawab Sang Menteri sambil tertawa lebar.

Itulah Megawati. Berdasarkan penuturan Laksamana Sukardi, mantan menteri negara Badan Usaha Milik Negara, jika berdiskusi dengan pembantunya, lebih sering soal-soal ringan seperti masakan, tanaman, dan shopping. Pembicaraan dengan topik itu bisa membuat diskusi dengan Megawati berlangsung lama.

Tapi, jika sudah menyentuh soal pekerjaan atau negara, daya fokusnya sangat terbatas. Konsentrasinya kurang cukup untuk terus menerus fokus ke permasalahan. Hal ini menimbulkan kesan Megawati orang yang tidak mau repot dalam mengurus negara.

Mantan pentiggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini hengkang dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, dalam sidang kabinet Megawati biasanya lebih banyak diam. Kalaupun angkat suara fungsinya hanya sebagai pengatur lalu lintas. Kalau ada dua menteri saling berdebat di sidang kabinet, Megawati hanya menonton, jarang memberikan pendapatnya sendiri atau menengahi keduanya, meski perdebatan sudah berada pada tingkat ‘panas’.

Ada cukilan kisah menarik tentang diamnya Megawati. Menjelang tutup tahun 2002 aksi-aksi unjuk rasa anti pemerintah, terutama dilancarkan mahasiswa, menunjukkan eskalasi yang tinggi. Aksi ini menyusul kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Di tengah ingar bingar unjuk rasa itu, beredarlah rumor yang menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengompori rangkaian unjuk rasa itu.

Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab atas stabilitas pemerintah, Hendropriyono (Kepala Badan Intelijen Negara), Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Politik dan Kemanan), dan Da’i Bachtiar (Kapolri), rupanya terus memeras otak untuk mencari tahu siapa dalang aksi-aksi ini.

Lantas, dalam rapat kabinet tanggal 20 Januari 2003, muncul empat nama yang disebut-sebut sebagai pihak yang berada di belakang aksi unjuk rasa. Mereka adalah Jenderal Wiranto, Fuad Bawazier, Adi Sasono, dan Eros Djarot. Tentang Fuad Bawazier, memang diketahui lama adalah mitra bisnis Rini Suwandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam kabinet Megawati.

Kemitraan mereka terjadi jauh sebelum Rini menjadi menteri. Suatu hari bertemulah Hendropriyono dan Rini Suwandi di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar. Hendro menegur keras Rini soal sepak terjang Fuad. Katakata Hendro meluncur tanpa tedeng aling-aling. Teguran itu begitu menyakitkan Rini hingga ia menangis sambil memeluk Megawati.

Apa reaksi Presiden? Megawati hanya tersenyum menyaksikan adegan perang mulut antara dua pembantu dekatnya.

Pendendam

Semua orang mafhum, hingga detik ini Megawati emoh bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden berkuasa yang notabene adalah mantan pembantunya di kabinet. Dalam upacara kenegaraan memperingati ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-63, 17 Agustus, tahun ini, Megawati tidak hadir.

Ketidakhadirannya diyakini karena faktor Yudhoyono sebagai Presiden.
Di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono (SBY) tidak lebih seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis. Ini semua karena sikap “diam-diam” SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2004.

SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab, “Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.”
Namun, Megawati dan kubunya menaruh kecurigaan besar terhadap SBY dan timnya. Perseteruan di balik selimut pun terjadi.

Terungkap ke publik bahwa Megawati mengucilkan SBY dari sidang-sidang kabinet. Sikap Megawati ini menguntungkan SBY karena dengan itu SBY tampil di media sebagai korban kezaliman Megawati.

12 Maret 2004 SBY mengirimkan surat pengunduran diri dari kabinet. Dua hari kemudian ia terbang ke Banyuwangi, berkampanye untuk Partai Demokrat. Pada putaran kedua pemilu 2004 SBY menang gemilang dalam pemungutan suara. Megawati sedih dan menangis. Semua orang tahu, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004 Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang.

Semua orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat televisinya, tapi sibuk berkebun.

Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati diartikulasikan dalam rapat DPP PDIP. “Kalau orang lain, Amien Rais Presiden, Wiranto Presiden, siapalah, saya datang. Tapi, kalau ini (SBY) saya enggak bisa, karena dia menikam saya dari belakang,” begitu kata Megawati seperti ditirukan Roy

SBY

Selanjutnya, bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? SBY adalah sosok yang perfeksionis. Ia selalu tampil rapi dengan tutur kata yang tertata. SBY pasti sadar bahwa ia seorang pria yang dikaruniai Tuhan dengan wajah cukup ganteng. Dan, ia betul-betul memanfaatkan ketampanannya setiap kali tampil di depan pers. Seolah kegantengannya dan penampilannya yang dandy merupakan daya tarik tersendiri yang harus selalu ‘dijual’ kepada publik setiap kali ia tampil.

”Pakaian yang dikenakan –apakah berupa setelan jas atau batik- selalu berkualitas No. 1 dengan warna, motif, dan ukuran mantap, mencerminkan seleranya berbusana yang tinggi. Ketika itu ia mungkin lebih pas diberikan predikat sebagai ‘foto model’ atau ‘aktor’ daripada seorang ‘kepala “.

Sebagai seorang perfeksionis, SBY selalu berusaha berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan verbal yang sempurna. Namun, gaya bahasanya seringkali high-context, cenderung berputar-putar, terutama ketika ia belum siap dengan keputusannya.

Sayang, tidak banyak hal tersembunyi yang terungkap dalam analisis terhadap gaya komunikasi politik SBY. Mungkin para pembantunya belum ada yang berani bicara terbuka karena Bapak Presiden masih berkuasa.

(Selesai)

Dari buku “Dari Soekarno Sampai SBY:
Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa” karya Prof. Dr. Tjipta Lesmana, MA.

Penembak Gambar Wajah SBY Tertangkap di Balikpapan !


Gambar : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperlihatkan cetakan foto hasil laporan intelijen yang menunjukkan foto dirinya menjadi sasaran tembak saat memberikan pernyataan pers terkait peristiwa ledakan bom yang terjadi di Jakarta di halaman kantor Kepresidenan, Jakarta, Jumat (17/7). SBY menyebut ada kelompok teroris yang berlatih untuk melakukan tindakan anarkis dengan melakukan latihan tembak yang menjadikan foto dirinya sebagai sasaran tembak.

Teroris yang melakukan latihan menembak dengan sasaran foto wajah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata telah ditangkap di Kaltim.


"Pelakunya sudah kita tangkap," kata Kapolri Bambang Hendarso Danuri saat jumpa pers di Jakarta, Jumat (17/7).

Menurutnya, gambar itu diambil pada 5 Mei lalu di Kaltim. Tersangka sudah ditangkap dan akan segera diadili. "Dan sudah diakui oleh yang bersangkutan menjadikan SBY sebagai target," jelas Kapolri.

Kapolri juga kembali menegaskan bahwa foto yang ditunjukkan SBY saat jumpa pers di Istana Negara kemarin adalah asli. "Bisa dipertanggungjawabkan secara yuridis," tuturnya.

Serang BRIMOB

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Drs Rudi Pranoto yang dikonfirmasi terkait pernyataan Kapolri tentang penangkapan pelaku penembakan foto SBY di Kaltim menjelaskan, tersangka pelaku tersebut adalah Abu Zar alias Kismaninda alias Husain alias Udin (27), yang ditangkap anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri, 9 Mei 2009 lalu.

“Yang disebutkan Kapolri itu adalah Abu Zar, yang ditangkap di kawasan Gunung Samarinda, Balikpapan Selatan. Dia ditangkap karena terlibat dengan aksi terorisme dan penyerangan markas Brimob di Desa Loki, Seram Barat, Maluku 2006 lalu,” tegas Rudi.

Namun menyangkut aksi latihan menembak dengan sasaran foto SBY, Rudi menegaskan pihak Polda Kaltim tidak mengetahui. “Karena setelah ditangkap, Abu Zar langsung dibawa ke Mabes Polri. Pengembangan kasus itu sepenuhnya dilakukan oleh tim Densus 88 Mabes Polri. Kita tidak tahu, tentang keterkaitannya pada latihan menembak,” jelas Rudi.

Disinggung soal kemungkinan pelaksanaan latihan menembak tersebut dilakukan di Kaltim, Rudi membantahnya. “Tidak pernah ada latihan menembak seperti itu di Kaltim. Lebih jelasnya memang pihak Densus 88 atau Mabes Polri yang harus dikonfirmasi, karena pengembangan kasusnya di sana,” tegas mantan Kapolres Malinau itu lagi.

Abu Zar ditangkap atas sangkaan terlibat penyerangan pos Brimob Polda Kaltim yang menewaskan lima personel Brimob di Desa Loki, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku pada Senin, 16 Mei 2005 sekitar pukul 03.00 WIT.

Kelima personel Brimob yang tewas itu Bripol Ronny Susanto, Bripol Hasanuddin, Bripol Teguh Aristianto, Briptu Slamet Harianto, dan Bharada Damanik.

Sebelum ditangkap, Abu Zar menyamar sebagai penjaga toko bangunan di Jl Strat III RT 27 Kelurahan Gunung Samarinda. Penangkapan Abu Zar berlangsung rahasia dan cepat oleh Tim Densus 88 yang dipimpin langsung Komandan Densus 88 Mabes Polri Brigjend Pol Saut Usman Nasution.

Abu Zar dijebak di kantor Lurah Gunung Samarinda, Satu (9/5). Seorang polisi menyamar sebagai pembeli bahan bangunan minta diantarkan pesanannya di kantor kelurahan. Abu Zar yang mengawal barang dan Lukman sebagai sopir pikap, langsung disergap Densus Mabes Polri yang jumlahnya lebih 10 orang begitu sampai di halaman kantor lurah.

“Penangkapannya sangat cepat,” kata Ketua RT 27 Kelurahan Gunung Samarinda Kuswandi di rumahnya. “Setahu saya, Udin (Abu Zar, Red) itu bekerja di toko bangunan Pak Muslim. Dan, Lukman memang warga saya yang sudah lama tinggal di sini,” sambungnya.

Toko bangunan UD Yazid Jaya di Jl Strat III yang dijaga Abu Zar, juga tempat Lukman bekerja. Menurut Kuswandi, selain menjadi karyawan, Abu Zar juga bertugas sebagai penjaga toko sekaligus tinggal di sana. Sementara Lukman tinggal di Jl Strat III Gang AMD Nomor 22.

Sumber: http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com/2009/07/penembak-gambar-wajah-sby-tertangkap-di.html

Rahasia Pidato Presiden SBY (Pake Contekan Canggih)

Masih inget pidato Presiden SBY tentang tanggapan kasus Bank Century? Begitu hebat, lancar, tegas dan sangat hafal (menguasai) sekali isi pidatonya yang sangat panjang. Ternyata ada rahasianya yang kemungkinan banyak orang yang belum mengetahuinya.

Ini dia, diambil dari berita lama dari Kompas yang menginformasikan tentang "Contekan" Canggih SBY di Pidato Kenegaraan

Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menyambut Kemerdekaan RI ke-65 di Rapat Paripurna DPR, Jumat (14/8), merupakan pidato terakhir sebelum ia mengakhiri masa pemerintahan 2004-2009 yang dipimpinnya.

Lima tahun ke depan, SBY yang memenangi pilpres bersama Boediono, masih akan melakukan hal yang sama. Jika diperhatikan, ada sesuatu yang berbeda saat SBY menyampaikan pidatonya pagi ini.

Tak ada secarik kertas pun ditangannya, seperti sebelumnya kala ia berbicara. Tanpa contekan, tapi rangkaian kata-kata itu terlontar begitu rapi dan sistematis. Pandangan SBY pun dapat ditebarkan kepada seluruh anggota dewan, perwakilan negara sahabat dan para menteri yang ada di dalam ruangan.

Apa rahasianya?
Dihapal? Tidak, bukan itu. Ternyata, ada 'contekan' canggih yang baru digunakan pada Pidato Kenegaraan kali ini. Melalui layar televisi, mungkin tak terlihat. Hal yang tampak, SBY hanya menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, menatap hadirin yang memenuhi ruangan sidang berukuran jumbo itu.

"Contekan" canggih SBY, menurut keterangan salah seorang Paspampres, dua buah layar bening yang berada di kanan dan kiri di depan podiumnya. Petugas paspampres yang enggan menyebutkan nama itu, menunjukkan kepada Kompas.com, dua buah layar berukuran laptop 10 inch yang masing-masing ditopang dengan sebuah tiang seperti yang biasa dipakai untuk mikrophone.

Layar tersebut transparan, sehingga siapapun tak menyangka bahwa layar-layar itulah yang menyajikan rangkaian kata-kata dari naskah pidato setebal 40 halaman. "Memang baru, kayanya baru kali ini dipakai," kata petugas paspampres yang bertugas di balkon wartawan.

Layar itu tak disediakan oleh protokoler DPR. Salah satu staf protokoler DPR mengatakan, perangkat itu disediakan Sekretariat Negara. Jika tak salah ingat, perangkat canggih itu pula yang digunakan pemimpin negara maju seperti Presiden AS Barrack Obama, saat menyampaikan pidatonya. Tanpa terlihat mencontek, tapi pidato disampaikan dengan lancar.


Ini dia Alatnya namanya Teleprompter:



cara kerjanya:


sumber: kaskus.us

PERBANDINGAN Pernikahan Anak Presiden Tempo Dulu DAN Sekarang [Jauuuuh Bangeet]

Gembar-gembor pernikahan putra kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edy Baskhoro, membuat politisi Bambang Sosatyo membayangkan kontradiksi yang terjadi pada pernikahan Rahmawati Soekarno Putri, anak dari Presiden pertama RI, Soekarno.

TEMPO DULU


Pada tahun 1969 Sukarno -di tengah sakit ginjalnya yang parah- menghadiri pernikahan anaknya Rahmawati Sukarnoputeri dengan Martomo Pariatman Marzuki atau dikenal dengan panggilan Tommy.

Pernikahan itu, cerita Bambang, jauh dari kemewahan, dalam kondisi yang amat prihatin. Pernikahan cukup berlangsung di rumah Ibu Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Kemudian, saat Bung Hatta datang ke pernikahan itu dan memberi selamat kepada Rahma, tiba-tiba terbuka pintu ada beberapa tentara. Di antara kerumunan tentara ada Bung Karno yang memakai jas hitam agak kedodoran dengan muka bengkak-bengkak datang ke pernikahan anaknya itu.

Ketika melihat kehadiran Bung Karno di sana, semua mata tertuju ke pintu. Beberapa orang meledak tangisnya termasuk Guntur. Hatta mengusap air mata dan tersedu-sedu melihat Sukarno. Fatmawati langsung berlari ke arah Sukarno dan menciumi suaminya itu. Sukarno berusaha tertawa tapi jelas iasudah amat kepayahan.

"Sementara di luar rumah berita kedatangan Sukarno mulai diketahui banyak orang, dari tukang becak sampai tukang dagangan berlarian ke depan pagar rumah Sriwijaya mereka berteriak-teriak : “Hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno” komandan tentara kaget dan memerintahkan agar Sukarno tidak terlalu lama di rumah Sriwijaya, ia harus segera pulang ke Wisma Yaso," cerita Bambang.

Inilah, satu-satunya pernikahan Bung Karno untuk anaknya yang ia hadiri. Sebuah tragedi memilukan dari seorang yang mendirikan bangsa ini. Seorang yang sepanjang hidupnya bekerja untuk Indonesia raya. Seorang yang membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan.

SEKARANG


Biaya pernikahan putra Presiden SBY yakni Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas dengan Aliya Rajasa putri Menko Perekonomian Hatta Rajasa disebut-sebut banyak pihak menelan biaya miliaran rupiah.

LSM Bendera misalnya menyebut biaya pernikahan Ibas-Aliyah mencapai Rp 12 miliar. Namun baik pihak Ibas dan Aliya sejauh ini belum menjelaskan berapa biaya yang dikeluarkan dari perhelatan itu.

Setidaknya pihak Presiden memastikan bahwa dana yang dipakai tidak ada sepersenpun dipakai dari kas negara. Dan tentunya sembari menjelaskan sumber dana yang didapatkan.

"Semua ini biaya pribadi kelaurga besar Pak SBY dan Hatta Rajasa," kata Sudi kemarin di kediaman Presiden SBY di Puri Cikeas Bogor, Jawa Barat.

Namun Sudi tidak tahu berapa biaya pernikahan sesungguhnya. Menurut Sudi,jangan ada yang berspekulasi mengenai biaya pernikahan Ibas-Aliya. "Jadi tolong kalau ada yang berspekulasi ada pemberitaan, informasi, tentang hal ini jelas saya tegaskan biaya adalah biaya sendiri pribadi Pak SBY dan Pak Hatta. Nominalnya, tentu namanya pribadi, tapi tentu seperti yang saudara-saudara saksikan ini (pernikahan) sepantasnya," kata Sudi.

"Perlu kita ingat, dalam laporan LHKPN, kekayaan SBY hanya mencapai Rp 7,14 miliar ditambah U$ 44.887, per 25 Mei 2009. Jadi, memang penuh pertanyaan dari mana dana prosesi pernikahan ini, jika benar sampai mencapai puluhan miliar," Ray menegaskan.

Hal lainnya adalah, terkait soal asas penghematan dan pola hidup sederhana yang senantiasa diucapkan SBY.
Lagi-lagi, jika benar adanya dana prosesi ini mencapai puluhan miliar, jelas ajakan untuk hemat dan sederhana hanya untuk rakyat Indonesia, tidak untuk elit, dan tidak juga untuk SBY sendiri.

6 Kisah Presiden Indonesia dan Film


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar nontonbareng Film Ainun Habibie. Bukan kali ini saja SBYmenggelar nonton bareng. Presiden keenam ini memanghobi nonton film. Semua presiden Indonesia ternyata punya cerita masing-masing dengan film. Presiden Soekarno misalnya, dia protes pengusaha film Holywood yang dinilainya rasis pada kulit berwarna.

Kisah 6 Presiden Indonesia dan film

Sementara Soeharto menggunakan film untuk melanggengkan OrdeBaru. Semasa jabatannya, banyak diproduksi filmperjuangan. Tapi film itu dinilai terlalu menonjolkanperan Soeharto. Habibie, Megawati, Gus Dur dan SBY pun punya ceritamasing-masing soal film. Seperti apa kisah para presiden dan film?

1. Soekarno protes pengusaha film Holywood





Soekarno sangat menyukai film. Di Surabaya dulu dia akan menabung untuk bisa menonton bioskop. Kadang karena uangnya kurang, Soekarno muda menonton bioskop dari balik layar. Sehingga film yang ditontonnya terbalik-balik.



Tapi Soekarno jengkel menonton film Amerika. Dia pernah menonton film berjudul Broken Arrows. Film itu menceritakan kisah percintaan antara perwira kavaleri Amerika dengan seorang gadis Indian. Akhir film ini tragis.



Maka saat bertemu Eric Johnson, pemimpin perusahaan United Artist yang membuat Film itu, Soekarno mempertanyakan kisah tragis dalam film Broken Arrows.



"Kenapa gadis Indian itu harus mati di akhir cerita? Kenapa mereka tidak dijadikan sepasang merpati yang berbahagia? Apakah anda tidak mengira bahwa kami tersinggung oleh kelicikan di layar putih yang terlalu jelas itu. Perbedaan warna kulit yang anda anut membangkitkan perasaan jijik orang Asia! Sampai-sampai anda memperlihatkan kerendahan dari bangsa kulit berwarna," kecam Soekarno.



Jawaban Johnson menyakiti hati Soekarno. "Bisnis film adalah bisnis untuk mencari uang. Orang-orang yang berasal dari bagian Selatan akan memboikot film ini bila orang kulit putih dan gadis kulit coklat akhirnya hidup bahagia," kata Johnson.



Maka Soekarno tahu bahkan dalam film pun ada propaganda Amerika Serikat soal perbedaan ras. Soekarno pun melarang anak-anak muda Indonesia menonton film barat.


2. Film sejarah berbalut propaganda ala Soeharto





Pemerintahan Soeharto banyak memproduksi film propaganda. Sosok Soeharto selalu digambarkan sebagai pahlawan perang. Film Janur Kuning misalnya. Film yang menceritakan tentang Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta dibuat tahun 1979. Janur Kuning memakan biaya sekitar Rp 350 juta, jumlah yang sangat besar pada masanya.



Sosok Soeharto yang diperankan Kaharuddin Syah, mendominasi hampir seluruh film. Dalam sebuah adegan, Soeharto berjalan tujuh hari tujuh malam untuk mengkoordinir pasukannya. Di sini pula terlihat Soeharto menggagas Serangan Umum 1 Maret. Di satu adegan, warga juga tampak bersuka ria dengan kedatangan Soeharto ke sebuah desa. 



Soeharto juga membuat film propaganda antikomunis. Film berjudul Pengkhianatan G0S PKI itu dulu wajib ditonton setiap tanggal 30 September. Di film ini pula Soeharto secara detil menggambarkan kekejian komunis.


3. Habibie, kisah cinta bapak dan ibu presiden





Habibie adalah presiden pertama yang kisah cintanya difilmkan. Kisah cinta Habibie dan Ainun memang seperti dongeng. Hingga akhir hayat Ainun, cinta Habibie tak ternoda.



Adalah sutradara Hanung Bramantyo yang menggarap cerita ini ke layar lebar. Artis Bunga Citra Lestari menjadi Ainun sementara Reza Rahadian memerankan Habibie. Habibie turut mengawasi pembuatan film yang naskahnya diambil dari buku Ainun Habibie yang ditulis Habibie untuk mengenang istrinya.



Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Ani dan sejumlah pejabat negara, ramai-ramai nonton bareng film ini.


4. Megawati, mimpi film Indonesia sekelas Bolywood


Kisah 6 Presiden Indonesia dan film



Megawati Soekarnoputri mengaku gemar menonton film nasional. Mega juga senang melihat film Bolywood. Karena itu dia berharap industri film Indonesia bisa tumbuh seperti di Amerika Serikat, Eropa dan Bolywood.



Tahun 2009 lalu, Mega dan para petinggi PDI Perjuangan menonton film King di XXI Plaza Senayan. Film King adalah film yang menceritakan soal bulu tangkis Indonesia. Seperti Soekarno, Mega juga mengaku senang nonton film. Di waktu luang, Mega sering menonton film untuk hiburan.



Walau doyan nonton film, Mega mengaku tak berminat menjadi seorang bintang film. "Nggak mau, nanti bayarannya mahal," kata Mega sambil bercanda.


5. Gus Dur, bolos kuliah demi nonton film


Kisah 6 Presiden Indonesia dan film



Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur keranjingan nonton semasa muda. Saat kuliah di Al Azhar Kairo, lebih mudah menemukan Gus Dur di bioskop daripada di ruang kuliah.



Gus Dur menonton semua jenis film. Mulai film Prancis, AS, Timur Tengah, tak ketinggalan film-film Indonesia. Demi hobinya pula, dia tak ragu bolos kuliah. Dari film juga Gus Dur belajar menghargai pluralisme. Menurutnya film adalah cara bertutur yang bisa menggambarkan pandangan suatu kelompok. Makin banyak kita menonton film, makin banyak kita mendapat perspektif sudut pandang.



Tak heran Gus Dur begitu menghormati perbedaan, tetapi tak hanyut dalam perbedaan itu.


6. SBY, hobi nonton bareng di bioskop





Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gemar menonton film. Jika ada film nasional yang bagus, SBY selalu nonton beramai-ramai mengajak para pejabat.



Film yang pernah ditonton SBY di antaranya Ayat-ayat Cinta. SBY pun meneteskan air mata menyaksikan perjuangan Fahri di Kairo. Selain itu SBY juga menonton Laskar Pelangi yang diadopsi dari novel Andrea Hirata.ร‚ 



SBY juga menonton film Habibie-Ainun ramai-ramai. Kembali SBY meneteskan air mata haru melihat kisah cinta Presiden ketiga RI ini.



5 Kisah Penyamaran Presiden dan Wapres Jadi Rakyat Biasa

5 Kisah penyamaran presiden dan wapres jadi rakyat biasa

Selama 8 tahun menjadi kepala negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jarang melakukan penyamaran (incognito). Setiap menggelar acara di tempat umum, Presiden SBY selalu dikawal oleh pasukan pengamanan presiden (Paspampres) dan agenda sudah terjadwal sebelumnya. Minggu lalu, Presiden SBY bersama keluarga berlaku seperti rakyat biasa dengan wisata ke Monas.


Menyamar sebagai rakyat biasa sudah sering dilakukan oleh presiden, wakil presiden, begitu juga seorang raja Jawa. Bung Karno misalnya, sering ngobrol dengan rakyat tanpa memperkenalkan siapa dirinya. Pak Harto pun tak segan tidur di rumah penduduk. Dari sana dia bisa mengetahui keadaan masyarakat dan apa saja yang dibutuhkan rakyat. Berikut beberapa penyamaran presiden dan wakil presiden:



1. Bung Karno


5 Kisah penyamaran presiden dan wapres jadi rakyat biasa

Seperti dikisahkan oleh Mangil Martowidjojo, mantan Komandan Detasemen Kawal Pribadi, dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967, Sang Proklamator sering menyamar sebagai rakyat biasa. 



Saat di Yogyakarta, Bung Karno dan Ibu Fatmawati terkadang jalan-jalan keluar masuk desa. Dari Istana Gedung Agung mereka naik mobil lantas di desa atau sawah, mobil diparkir di pinggir jalan dan ditunggu oleh sopir pribadi. Saat berjalan kaki masuk keluar kampung dan meninjau persawahan, Bung Karno dan Ibu Fatmawati dikawal seorang polisi pengawal. 



Ketika sedang berjalan kaki dan melihat ada cacing merayap di tengah jalan, BK memerintahkan pengawalnya untuk memasukkan cacing itu ke sawah. Ada anggota polisi pengawal merasa jijik memegang cacing, dengan cepat BK memegang cacing kepanasan itu dan memasukkannya ke sawah.



Bung Karno juga sering berbincang dengan rakyat jelata, di kampung maupun di tengah sawah. Rakyat yang dia ajak ngobrol kelihatan gembira.



Keluar dari istana secara incognito sering dilakukan. Suatu hari Bung Karno berkata pada Mangil, “Yo, Mangil. Bapak ingin keluar sebentar. Bapak ingin melihat umpyeke wong golek pangan di Jakarta (Bapak ingin melihat kesibukan orang mencari rejeki di Jakarta).”



Bung Karno bisa pergi ke daerah Senen, jalan mendekati gerbong kereta api yang ditempati orang-orang yang tidak punya tempat tinggal. Dia bercakap-cakap dengan para gelandangan itu. Ada seorang perempuan yang berkata keras, “Lo, itu ‘kan suara Bapak! Itu Bapak, ya?” Karuan saja, sekitar tempat itu penuh dengan orang. Mangil langsung membawa Bung Karno pergi.



2. Sri Sultan Hamengku Buwono IX


5 Kisah penyamaran presiden dan wapres jadi rakyat biasa

Sultan Hamengku Buwono IX terkenal merakyat. Banyak kisah menarik yang terjadi antara Sultan dan masyarakat Yogyakarta. Sultan bahkan membuat seorang wanita pedagang beras pingsan.



Hal ini pernah disaksikan langsung oleh SK Trimurti, istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi. Dalam buku 'Takhta Untuk Rakyat' wanita yang merupakan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia itu menceritakan bagaimana dirinya mengalami langsung sikap ringan tangan Sultan.



Kejadiannya berlangsung pada tahun 1946, ketika pemerintah Republik Indonesia pindah ke Jogjakarta. Saat itu, Trimurti dari Jalan Malioboro ke utara menuju ke rumahnya di Jalan Pakuningratan (Utara Tugu). Dia penasaran dengan kerumunan yang ada. Setelah ditanyakan, ternyata ada wanita pedagang yang jatuh pingsan di depan pasar. Ternyata yang membuat warga berkerumun bukan karena wanita yang jatuh pingsan di pasar, melainkan penyebab wanita itu jatuh pingsan.



Ceritanya berawal ketika wanita pedagang beras ini memberhentikan jip untuk menumpang ke pasar Kranggan.



Setelah sampai di Pasar Kranggan, sang pedagang wanita ini meminta sang sopir untuk menurunkan semua dagangannya. Setelah selesai dan bersiap untuk membayar jasa, dengan halus, sang sopir menolak pemberian itu. Dengan nada emosi, wanita pedagang ini mengatakan kepada sang sopir, apakah uang yang diberikannya kurang. Tetapi tanpa berkata apapun sang sopir berlalu menuju ke arah selatan.



Seusai kejadian itu, seorang polisi datang menghampiri dan bertanya kepada pedagang wanita itu. "Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?" tanya polisi.



"Sopir ya sopir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang sopir satu ini agak aneh." jawab sang wanita dengan nada emosi.



"Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, raja di Ngayogyakarta ini." jawab sang polisi.



wanita pedagang itu pingsan setelah mengetahui sopir yang dimarahinya karena menolak menerima uang imbalan dan membantunya menaikan dan menurunkan barang dagangan, adalah Sultan Hamengku Buwono IX.



Sultan yang gemar menyetir sendiri ini memang senang memberikan tumpangan. Berkali-kali orang yang mau nunut alias numpang terkejut karena yang ditumpanginya adalah mobil Sultan Yogyakarta sekaligus menteri negara. Sultan sendiri cuek-cuek saja. Dia malah senang bisa membantu masyarakat



3. Pak Harto


5 Kisah penyamaran presiden dan wapres jadi rakyat biasa

Presiden kedua RI Soeharto sering melakukan incognito atau penyamaran. Pak Harto blusukan keliling daerah terpencil untuk melihat hasil-hasil pembangunan.



Biasanya saat melakukan kunjungan tidak resmi tersebut, Soeharto hanya ditemani ajudan, satu atau dua pengawal dan dokter pribadi. Hal ini dikisahkan mantan ajudan Soeharto yang akhirnya menjadi Wapres Jenderal (Purn) Try Soetrisno.



"Pak Harto selalu melakukan incognito. Pak Harto selalu berpesan tidak boleh ada satu pun yang tahu kalau Pak Harto mau melakukan incognito," ujar Try dalam buku Pak Harto, The Untold Stories.



Saat menyamar, Pak Harto selalu membawa makanan sendiri. Makanan itu dimasak oleh Ibu Tien Soeharto. Menunya sederhana sambal teri dan kering tempe. Soeharto selalu makan bersama ajudan dan pengawalnya.



4. Susilo Bambang Yudhoyono


5 Kisah penyamaran presiden dan wapres jadi rakyat biasa

Minggu (21/10) lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga menghabiskan akhir pekan dengan berwisata di Monas. SBY menyamar agar tak dikenali oleh masyarakat. Dia mengajak cucunya Almira Tunggaldewi keliling Monumen Nasional (Monas).



"Jalan-jalan di Monas. Incognito (menyamar) sama cucu beliau," kata Jubir Presiden Julian Aldrin Pasha, Senin (21/10).



SBY mengaku senang mengunjungi Monas secara langsung. SBY sempat menyaksikan beberapa obyek wisata di sekitar Monas. Tapi SBY berharap pengelolaan Monas dibenahi. "Beliau berharap Monas dikelola lebih baik lagi. Kan Monas sudah baik jadi lebih baik lagi," kata Julian.



Dalam foto yang diterima merdeka.com dari Biro Pers dan Media Istana Kepresienan, tampak Presiden SBY, Ibu Ani Yudhoyono, Aira, Agus Harimurti Yudhoyono beserta istri dan anaknya, Aira tampak berjalan kaki. Ibas dan istrinya juga tampak hadir. Semuanya menggunakan kacamata hitam biar tak dikenali warga.



5. Jusuf Kalla



Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pernah membikin repot Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Suatu hari di akhir pekan, JK yang waktu itu masih menjadi wakil presiden rupanya ingin jalan-jalan pagi di Taman Suropati.



Taman itu tidak jauh dari rumah dinas Wapres di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat. Letaknya hanya beberapa meter. JK waktu itu ingin mengajak cucunya jalan-jalan pagi hari.



Untuk menghindari Paspampres, JK tidak lewat depan rumah. Tentu saja, depan rumah dinasnya ada penjagaan ketat dari Paspampres. JK memilih keluar lewat pintu samping rumah bersama cucunya.



JK akhirnya 'lolos' dari pengawasan Paspampres. Dia kemudian berjalan ke Taman Suropati. Di taman saat itu, sedang ramai ada acara pagi. Ya, sebuah stasiun televisi swasta sedang mengadakan acara hiburan di sana.



Sekilas tidak banyak mengenal JK. Beberapa orang berpapasan dengan JK juga tidak menegur. Penyamaran JK baru ketahuan saat sedang duduk dengan seorang bapak yang sedang membaca koran.



"Sedang baca koran Pak," tanya JK. Saat itu seorang bapak yang ditanya langsung menengok. Bapak itu kaget bukan kepalang, ternyata orang menyapanya adalah seorang wakil presiden.



Suasana di sana langsung heboh. Kamera televisi pun langsung menyorot JK. Sementara masyarakat yang berada di Taman Suropati langsung mengerumuni JK.



Suasana heboh ini langsung terdengar oleh Paspampres. Pasukan khusus ini langsung berlari menuju Taman Suropati untuk kembali mengawal JK. Karena demi keamanan, JK akhirnya kembali lagi ke rumah dinasnya.



sumber: merdeka.com
 
Tahukah Kamu »